Kenangan adalah usia kedua dari seorang manusia...

Minggu, 24 Juni 2012

Don't Wanna Try

 









don't wanna try don't wanna try don't wanna try no more
don't wanna try don't wanna try don't wanna try

i can't believe u had the nerve to say the things u said
they hurt so bad that they ended our relationship
i can't believe it ..4 years gone down the drain

how i wish things would of happened so differently
i try'd to save it so many times but you still couldn't see
u kept insistin' and resistin' that u would not fall again

and now ur tryin' to tell me that ur sorry and ur tryin' to come back home
ur tellin' me u really need me crying beggin both knees are on the floor

but baby i don't wanna try don't wanna try don't wanna try no more
u keep insisting when u know our love is out the door
don't wanna try don't wanna try
cuz all we do is fight and say the things that hurt so bad to where we both begin to cry

don't wanna try don't wanna try
i 'bout just had enough its been a rough road baby just let it go
don't wanna try don't wanna try don't wanna try no more
tell me whats the use of holdin' on when all we do is hurt our love

u and i had many conversations on the telephone
talks about one day we having a place of our own wake up in the morning
and have breakfast ready on the table
but all of that just seems so far away from me had to wake up face reality
it all just seem to good to be true
after all you put me through

and now ur tryin' to tell me that ur sorry and ur tryin' to come back home
u tellin' me that u really need me crying beggin both knees are on the floor

but baby i don't wanna try dont wanna try dont wanna try no more
u keep insisting when u know our love is out the door
don't wanna try dont wanna try
cuz all we do is fight and say the things that hurt so bad to where we both begin to cry

dont wanna try don't wanna try
i bout just had enough its been a rough road baby just let it go
don't wanna try don't wanna try don't wanna try no more
tell me whats the use of holdin' on when all we do is hurt our love

don't wanna try don't wanna try don't wanna try no more
don't wanna try don't wanna try
don't wanna try don't wanna try don't wanna try no more
don't wanna try dont wanna try don't wanna try no more


Original version By : Frankie J

Rabu, 20 Juni 2012

Into The Fire (2010 Movie)

  Cast:
Cha Seung-won as Park Mu-Rang

Kwon Sang-woo as Ku Kap-jo

T.O.P as Oh Jung-Bum
Kim Seung-woo as Kang Suk-Dae

 Sinopsis (Wikipedia):
Film ini berdasarkan kisah nyata tentang sebuah grup yang terdiri dari 71 prajurit pelajar Korea Selatan. 71 orang ini adalah pejuang-pejuang muda yang sebelumnya sama sekali tak terlatih yang keseluruhan terbunuh pada 11 Agustus 1950 saat mempertahankan daerah P’ohang-dong pada Perang antara Korea utara dan korea selatan. Pejuang-pejuang muda itu ditugaskan untuk mempertahankan sebuah sekolah bernama P’ohang-dong, sebuah tempat yang merupakan titik strategis untuk mempertahankan negara dari serangan Korea Utara, sementara pasukan-pasukan senior meninggalkan mereka untuk berperang di daerah lain. Dengan penuh perjuangan akhirnya mereka berhasil mempertahankan sekolah tersebut selama 11 jam. Sebuah perjuangan yang tak mudah dan diselimuti ketakutan dan ketegangan. 
My comment:
Film action tak pernah masuk waiting list ku. Tapi…. Nama TOP yang terpampang sebagai salah satu cast di film itu akhirnya menimbulkan sedikit ketertarikan untuk mengintip film ini.
Catatan: Aku bukan fans dari TOP, hanya “kenal dekat” ;D dan pengen liat aja kayak gimana kalau dia acting di film macam beginian.
Dan akhirnya….
Arrrggghhhh, belum ada 10 menit pertama lantai kamar sudah berserakan tisu basah. Aku TERPAKSA menangis. Filmnya sedih sangat. Dan dari rasa penasaran pengen sekedar ngintip, akhirnya menjadi rasa penasaran untuk nonton sampai akhir.
Dan setelah selesai…. *pinjem jari temen*…. 10 tumbs buat film ini. Bagus sangat.
Muka bingunya TOP nambah feel di film ini. Bener-bener tampak seperti pemuda tak berpengalaman yang takut dan bingung. Tapi masih ada satu hal yang membuatku kagum, yaitu efek kamera yang benar-benar keren. Yang kumaksud disini adalah efek kamera yang bisa membuat wajah TOP bener-bener tampak seperti anak muda. atau bisa dibilang anak kecil (pict ke 2).
 Spoiler:
 Film dibuka dengan adegan mengenaskan saat Jung Bum dan satu orang temannya memapah salah satu prajurit yang terluka parah dengan background suasana perang. Melihat wajah Jung Bum disini rasanya miris, tapi lebih miris lagi saat melihat wajah ketakutan dan kebingungan Jung Bum saat ditugaskan untuk membawa amunisi ke atap sebuah gedung dimana untuk sampai kesana harus melewati hujaman bom dan desingan peluru di kanan-kiri.
Semakin miris saat slow motion aliran darah segar dari telinga Jung Bum setelah suara keras ledakan mobil di dekatnya. Namun dengan penuh keberanian akhirnya ia berhasil sampai di atap gedung dengan selamat.
Dalam perjalanannya kembali ke bawah dia terjebak di tengah suasana genting, namun beruntung ada senior yang menyelamatkannya. Namun, saat senior itu hampir terbunuh, Jung Bum yang hendak menyelamatkannya ternyata gagal karena tangannya gemetar saat hendak memasang peluru senapannya yang ternyata habis. Dan mulailah air mata membanjir saat Jung Bum mengantar senior yang menyelamatkannya itu ke medis dan akhirnya nyawanya tak tertolong T_T
Pada intinya film ini mengisahkan tentang 71 orang student soldier. 3 orang adalah murid lama (yang tersisa dari angkatan sebelumnya), dan 68 lainnya adalah anak-anak baru. 3 orang murid lama itu termasuk Jung-Bum yang akhirnya dipercaya oleh seniornya, Suk Dae, untuk menjadi pemimpin pasukan. 71 orang ini ditugaskan untuk menjaga sebuah sekolah bernama Pohang yang merupakan daerah pertahanan yang strategis. Sementara itu seluruh pasukan senior pergi untuk berperang di Nakdong River. Mereka ditugaskan untuk mempertahanan tempat itu hanya sampai hari Rabu dimana pasukan bantuan akan datang.
Membayangkan…. Orang-orang muda tak berpengalaman, ditinggal pergi semua senior, bahaya mengancam kapan saja, seperti anak ayam yang ditinggal induknya di tengah-tengah kandang harimau. Apalagi Jung Bum yang saat mendengar dirinya dijadikan pemimpin benar-benar nampak shock, melepas kepergian senior-seniornya yang meninggalkan beban berat di pundaknya.
Konflik antara Jung-Bum dengan anak-anak baru (terutama geng nya Kap Jo menjadi bumbu ketegangan di film ini. Walaupun pada akhirnya setelah kejadian yang menguras air mata (air mataku) akhirnya mereka bisa berjuang bersama.
Yang paling miris adalah bagaimana masing-masing anggota pasukan itu punya cerita perjuangannya tersendiri. Bagaimana si A yang dianggap bodoh sampai ditendang-tendang di depan umum oleh Kap Jo karena tertangkap oleh musuh akhirnya mati karena melindungi Kapjo. Ia berkata pada Kap Jo “You’re better at fighting than me…You’re braver than me” T_T
Kemudian bagaimana seorang kakak harus menembak adiknya sendiri yang sudah terkena luka tembak dalam keadaan sekarat karena kelaparan disebabkan bahan makanan yang tak kunjung datang.
Bagaimana seseorang yang mempelajari  menggunakan peledak dengan baik akhirnya mengorbankan dirinya menjadi bom bunuh diri, merelakan tubuhnya terpelindas tank namun akhirnya berhasil membuat tank itu meledak dan menghambatnya untuk mendekat ke Pohang.
Lalu bagaimana seseorang yang mengatakan "hati-hati saat memasukkan peluru atau jarimu akan terpotong" pada akhirnya...... tertembak mati setelah jarinya terjepit saat hendak memasukkan peluru T_T
Masih banyak cerita-cerita pengorbanan lain yang bisa membuatku merinding sekaligus meras tisu. 

 
Overall film ini layak ditonton. Film action dengan efek ngga kalah menakjubkan dari film barat, tapi tetep menyajikan sisi sensitif yang menyentuh ala film-film Asia. Recommended lah.

Jumat, 15 Juni 2012

Studi Lapangan Day 4-5

Kondisi fisik ngedrop di hari ketiga (apa gara-gara frustasi karena ngga ada kerjaan ya?) haha...
Tapi disaat itulah justru nampaknya kerjaan itu mulai melirik dan mendekatiku #halah

Hari keempat lumayan meningkat, dari kemaren-kemaren satu hari cuma dapet satu kerjaan tapi sekarang bisa dapet dua kerjaan. Yang pertama untuk hari keempat disuruh ngedata jumlah kebutuhan PNS untuk 5 tahun mendatang, termasuk berapa yang pensiun untuk 5 tahun mendatang.
Eh, ada yang menarik lho. Waktu lagi ngerjain itu kan sempet ditungguin bentar sama Kabidnya.
Bapak Kabid itu curhat, beliau bilang "sebenernya kami itu kurang banget di akuntannya mbak. Disini rata-rata pada lulusan sarjana yang jurusannya umum kayak ekonomi dan sebagainya. susah mbak cari yang bener-bener udah fokus di akuntansi."
Eh, aku nyeplos aja "kalau D3 boleh Pak?"
bapaknya jawab "boleh banget!"
zzz.... merasa seperti..... mmmm.... apa ya..... #salting

Ya sudahlah, berdoa yang terbaik saja #lho (u know what I mean?)

Lanjut...
Pekerjaan kedua di hari keempat adalah bantuin Bu Sekretaris bikin analisis masalah di DPPKAD dan solusinya. Hehe... ngeliat Bu Sekre mikirin kalimat yang tepat ternyata raut wajahnya ngga beda jauh sama aku kalau lagi mikir. *ga penting*

Dan sampai di rumah langsung tepar. Badan panas, hidung mampet, kepala nyut-nyut an. Sebenernya sama ayah disuruh ngga masuk dulu besoknya. Alhamdulillah setelah nelen obat besoknya udah agak baikan. Untung tetep masuk, coba kalau ngga, pasti aku ngga bakal dapet dua kerjaan yang sangat kunanti-nanti berikut ini *lebay

Lanjut ke hari kelima...
Mulai berasa pedesnya mantengin komputer. Tapi mulai berasa enjoynya jadi pegawai beneran. Hari ini dapet 2 tugas. Dan yang satunya agak nyerempet-nyerempet mata kuliah pajak. Hahai.... berguna juga akhirnya kuliahku selama 3 tahun :D
tugas yang pertama entry data PNS dan CPNS DPPKAD. Kalau yang ini mah tinggal masuk-masukin aja.
Nah yang kedua nih agak menantang. Bikin daftar penerima Taspen. Saking menantangnya sampai ngga bisa selesai dalam satu hari. Jadi untuk hari senin nanti ada tabungan ngerjain 3/4 lagi yang kurang (hari ini baru dapet 25 an orang dari 96 orang yang harus dibikin). Mulai deh ngegaruk-garuk otak nyari-nyari dimana kira-kira aku nyimpen istilah-istilah sebangsa Kawin, Tidak Kawin, Tunjangan Anak, Batas tunjangan anak, dsb. 

Dan minggu pertama Stulap ditutup dengan makan bareng kelompok PKL. Lesehan di pinggiran lapangan sambil hahahihi menikmati es buah, pentol corah sama syomai. Setelah ini.... weekend dulu!!!

*Ambil boneka Mickey Mouse*
#kode

Surat Cinta Untuk Papa

Hanya ingin berbagi. Bukan bermaksud apa-apa maupun berniat yang tidak-tidak (kalau ada yang mungkin berpikiran demikian), semoga pembaca bisa mengambil hikmah yang baiknya saja :)

Dikutip dari : kesehatan.kompasiana.com 24 March 2011

Sebuah surat dari seorang anak untuk papanya...

“Medan, 8 Oktober 2007

Untuk papa tercinta,

Syalom, pa! Semoga saat membaca surat ini papa nggak sedang merokok. Abang menulis surat ini dengan rasa sayang dan rasa hormat yang sangat besar kepada papa. ☺

Pa, inti dari surat yang abang tulis ini adalah abang memohon agar papa berhenti merokok. Kita harus sama-sama berubah, pa. Abang harus lebih peduli dengan kesehatan pribadi dan abang sangat berharap papa pun berhenti merokok. Sadarkah papa bahwa nggak ada satu hal pun yang menjadi dampak positif dari kegiatan merokok yang udah papa lakukan selama lebih dari 20 tahun itu?

Pa, cukup abang aja lah yang pernah sakit karena asap rokok papa itu. Puji Tuhan, bukan papa, mama, atau adek-adek yang sakit karena asap rokok papa itu, melainkan abang yang merupakan anak papa yang paling besar dan juga anak papa yang kelak akan menggantikan posisi papa sebagai pemimpin keluarga besar kita. Abang udah membaca banyak buku dan sumber data lainnya tentang kanker, pa. Seseorang bisa terkena penyakit kanker karena 5% faktor genetik dan selebihnya adalah karena lingkungan, makanan, minuman, dan pola hidup. Sejak kecil, abang dan adek-adek selalu hidup di rumah dan lingkungan yang bersih. Makanan dan minuman kami termasuk jajan di sekolah dulu selalu diperhatikan oleh papa dan mama. Kami juga terbiasa dengan pola hidup yang sehat dan teratur karena sifat papa yang disiplin dan keras dan mama yang suka dengan keteraturan. Sesuai dengan pendapat dr. Dewi di Rumah Sakit Kanker ‘Dharmais’ tahun 2005 yang lalu, memang nggak bisa dipungkiri bahwa abang menderita kanker nasofaring karena asap rokok papa yang abang hirup sejak abang masih bayi. Pa, di dunia kedokteran di dunia ini nggak pernah dikenal istilah ‘mantan penderita kanker’ karena para dokter percaya bahwa seseorang yang pernah menderita kanker dan telah selesai menjalani pengobatan tidak akan pernah benar-benar sembuh total dari penyakit kanker itu seumur hidupnya. Selalu ada kemungkinan bahwa suatu saat kanker itu akan muncul lagi dan sang penderita harus menjalani pengobatan lagi. Kalau bisa diibaratkan, mungkin keadaannya seperti cerita di bawah ini.

“Pada suatu siang, seorang manusia secara tiba-tiba terkurung di kandang seekor singa yang sedang tertidur pulas. Singa itu tertidur karena rasa laparnya yang luar biasa hebat sehingga menyebabkannya menjadi sangat lemas dan akhirnya tertidur lelap. Sementara singa tertidur, manusia itu merinding ketakutan dengan apa yang dialaminya sekarang. Dia selalu berpikir tentang apa yang akan dilakukannya agar singa itu tak terganggu tidurnya dan bagaimana kalau nanti singa itu terbangun dari tidurnya dan siap menerkam, merobek-robek dagingnya, dan menjadikan dirinya sebagi santapan. Apakah hidup manusia itu akan berakhir dengan kematiannya di ujung taring sang singa yang sangat tajam dan mematikan itu? Abang berharap nggak, tapi hanya Tuhan lah yang tau akhir dari cerita itu.”

Jadi, setelah papa membaca semua penjelasan abang di atas, sadarkah papa akan betapa beratnya salib yang abang pikul sekarang?

Juli 2002 merupakan bulan yang nggak akan terlupakan dalam hidup abang, pa. Sebuah kebanggaan yang luar biasa bagi keluarga kita terutama bagi abang sendiri bahwa abang diterima menjadi siswa SMA Taruna Nusantara, sekolah terbaik di negeri kita ini, terlebih lagi karena abang mendapatkan beasiswa pendidikan untuk 3 tahun pendidikan di SMA Taruna Nusantara dari Bapak Mayor Jenderal Lisno sebagai Direktur Utama PT ASABRI. Memang, itu merupakan suatu berkat yang luar biasa dari Tuhan. Sejak SD abang memang sudah bermimpi bahwa abang akan melanjutkan pendidikan abang ke SMA Taruna Nusantara dan itu akan menjadi batu loncatan abang untuk menjadi seorang taruna Akademi Militer. Namun, langit terasa runtuh saat duduk di kelas 2 abang tau bahwa abang menderita penyakit itu. Di mana engkau, Tuhan? Saya masih sangat muda, kenapa Engkau membiarkan penyakit itu datang menghampiriku? Sejak saat itu semuanya berubah, pa. Pupus sudah mimpi abang sejak kecil untuk menjadi seorang taruna Akademi Militer. Pa, abang punya satu rahasia kecil. Kuliah di STAN adalah pilihan hidup, bukan panggilan jiwa abang. Puji Tuhan, abang selalu bersyukur atas hidup abang sekarang. Abang juga sangat bersyukur karena Andes menjadi seorang taruna Akademi Militer sekarang. Walaupun abang nggak bisa meraih cita-cita abang, tapi setidaknya salah satu adek abang udah mewujudkannya. Setiap hari abang selalu mendoakan Andes agar dia diberi kesehatan dan bisa mengikuti dan menyelesaikan pendidikan di sana dengan baik.

Pa, lewat surat ini abang juga mau bercerita kepada papa tentang betapa beratnya perjuangan abang dalam menjalani pengobatan kanker di bawah penanganan dr. Rakesh Raman di Rumah Sakit Kanker ‘Mount Miriam’ tahun 2006 yang lalu.

“Penang, 6 November 2006. Hari ini adalah hari pertama abang menjalani radioterapi. Nggak ada yang istimewa di ruangan radioterapi itu. Abang hanya berbaring di bawah mesin sinar X itu dan disinar sekitar 10 menit. Setelah itu, sekitar jam 2 siang abang menjalani kemoterapi untuk pertama kalinya. Berbagai jenis cairan dimasukkan ke dalam tubuh abang melalui selang infus yang ditusukkan ke pergelangan tangan abang. Kemoterapi ini akan memakan waktu sekitar 5 jam. Setelah berjalan selama 2 jam, badan abang terasa panas seperti hampir terbakar api. Akhirnya, kemoterapi pertama pun selesai. Saat itu tubuh abang terasa sangat lemas sampai berjalan beberapa meter aja pun abang nggak kuat, tapi abang memilih untuk memaksakan diri. Abang harus terlihat tegar terutama karena ada mama yang sedang menemani abang. Semua perasaan abang bercampur aduk saat itu. Abang merasa sedih, heran, marah, dan hampir putus asa dengan keadaan itu, tapi abang diam aja. Abang nggak mau membuat mama lebih sedih dengan apa yang abang rasakan sekarang. Puji Tuhan, akan selalu ada mama yang akan menemani abang menjalani terapi selama 2 bulan ke depan. Abang sangat menghargai perjuangan mama yang rela meninggalkan pekerjaannya selama 2 bulan untuk menemani abang selama terapi. Abang juga sangat menghargai perjuangan papa yang bekerja keras mencari nafkah untuk membiayai terapi abang yang membutuhkan biaya yang sangat besar. Terima kasih untuk papa dan mama! ☺

Sesuai dengan jadwal yang diberikan dokter, abang akan menjalani radioterapi sebanyak 35 kali dan kemoterapi sebanyak 6 kali. Radioterapi dilaksanakan mulai dari hari Senin sampai Jumat setiap jam 9 pagi. Kemoterapi dilaksanakan setiap hari Senin pada jam 1 siang. Hari berganti hari. Pada hari ke-10 abang mulai merasakan sakit saat menelan. Awalnya abang nggak menyangka, tapi setelah diberi penjelasan oleh dokter, ternyata itu adalah efek dari radioterapi yang abang jalani. Itu baru permulaan dan hari-hari berikutnya kondisi abang semakin menyedihkan. Pada hari ke-15 rongga mulut dan kerongkongan abang dipenuhi luka. Lidah abang mati rasa. Semua minuman dan makanan rasanya sama aja bagi abang, sama-sama nggak ada rasa alias tawar. Kelenjar air ludah abang rusak parah sehingga mulut abang kering dan setiap kali makanan masuk ke mulut, setiap kali itu juga abang harus membasahi makanan yang ada di mulut abang itu dengan air putih sebagai pengganti air ludah abang yang sama sekali tidak ada. Kulit muka dan leher abang menghitam karena terbakar akibat radiasi sinar X dari radioterapi tersebut. Memasuki hari ke-20, dimulailah hari-hari puncak penderitaan dan perjuangan abang pun semakin berat.

Keadaan abang amat sangat parah. Betapa hebatnya rasa sakit akibat luka-luka di mulut dan kerongkongan abang sehingga untuk minum air putih aja abang merasa sangat sakit dan air mata pun hampir menetes karena rasa sakit yang abang rasakan amat sangat menyakitkan. Di saat kondisi fisik abang semakin lemah dan rasa sakit yang betapa hebatnya itu mencapai titik klimaksnya, abang malah dituntut untuk menambah asupan gizi jauh lebih banyak dibandingkan yang abang konsumsi sehari-hari supaya abang bisa melanjutkan terapi dengan lancar. Menu makanan abang sehari-hari pun berganti dari nasi menjadi bubur gandum karena hanya itulah makanan yang bisa abang telan. Selain itu, abang juga harus rajin minum susu dan jus buah segar. Saat minum jus buah tertentu seperti jus buah kiwi dan bit yang rutin dibuatkan mama, abang merasakan rasa sakit dan perih sampai ke ubun-ubun karena rasa asam yang terkandung pada buah itu membasahi luka-luka di mulut dan kerongkongan abang. Kalau abang nggak bersemangat makan bubur dan minum susu dan jus buah segar dengan rutin sehingga kondisi abang nggak memungkinkan untuk melanjutkan terapi, dokter nggak akan mengijinkan abang untuk melanjutkan kedua jenis terapi tersebut. Kalau hal itu sampai terjadi, pengeluaran untuk biaya hidup pun akan bertambah dan membengkak.

Keadaan fisik abang bertambah parah di hari-hari selanjutnya. Selain itu, memburuknya keadaan psikis abang juga mencapai puncaknya. Abang merasakan stres yang luar biasa beratnya. Abang merasa frustasi dengan hidup yang sedang abang jalani saat itu, pa. Semuanya terasa hancur. Semua orang di sekitar abang pun terlihat seperti nggak perduli sama abang. Untuk pertama kalinya dalam hidup abang, abang menjadi seorang anak yang sering melawan dan sering marah sama mama. Puji Tuhan, mama selalu sabar menghadapi abang saat itu. Untuk pertama kalinya juga, hidup, harapan, dan mimpi-mimpi abang tentang betapa indahnya hidup ini seakan-akan terasa sebagai sebuah ilusi. Rasanya abang udah nggak pengen lagi hidup di dunia ini. Bagi abang, untuk apa abang hidup kalau abang hanya jadi beban untuk keluarga. Kemungkinan terburuk dari semua keadaan itu adalah mungkin abang akan memilih bunuh diri aja. Namun, apa yang terjadi berikutnya adalah ternyata Tuhan berkehendak lain. Di saat abang dilanda semua beban yang sangat berat itu, abang semakin rajin berdoa dan semakin pasrah kepada Tuhan. Perlahan-lahan tapi pasti, timbul semangat yang lebih besar dalam diri abang untuk melanjutkan dan menyelesaikan perjuangan yang sedang abang hadapi saat itu. Akhirnya, perjuangan abang berakhir dengan indah, pa. Pada tanggal 22 Desember 2006 abang menyelesaikan terapi dengan tuntas. Esoknya, abang dan mama meninggalkan kota Penang dan bergegas pulang ke rumah dengan hati yang sangat lega dan rasa puas yang sangat besar. Terima kasih, Tuhan atas semua yang telah kujalani! Terima kasih, Tuhan karena aku mampu mengalahkan penyakit itu!”

Abang sekarang lagi nangis, pa. Papa harus selalu ingat bahwa abang menulis surat ini dengan air mata dan juga dengan rasa sayang dan harapan yang sangat besar agar papa berhenti merokok. Saat menuliskan cerita di atas tadi, abang kembali teringat dengan apa yang telah abang jalani dulu dan merasa sangat sedih. Pa, Tuhan mungkin nggak pengen melihat abang sedih lagi dengan apa yang abang alami dulu karena setiap kali nangis abang merasakan sakit saat menelan seperti sakit saat menelan akibat radioterapi yang abang rasakan dulu.

Abang merasa sangat bersyukur dengan hidup abang sekarang. Abang menjadi sangat menghargai setiap hal sekarang, walaupun mungkin menurut orang lain hal itu kecil dan sepele. Pa, ternyata hidup ini singkat. Kita nggak pernah tau kapan hari terakhir dalam hidup kita. Bukan nggak mungkin bahwa abang mendahului papa meninggalkan dunia ini. Selalu ada kemungkinan terburuk dalam hidup ini, pa. Abang sekarang sangat menikmati hidup abang dan selalu berusaha untuk hidup dengan melakukan yang terbaik terutama dalam menjaga kesehatan abang. I will do the best and God do the rest. Abang akan melakukan yang terbaik yang bisa abang lakukan dan Tuhan akan melakukan sisanya. Hidup abang sekarang adalah sebuah mukjizat dari Tuhan yang harus abang pertanggungjawabkan dengan sungguh-sungguh. Abang hidup dengan harapan yang sangat besar kepada-Nya. Sabda Tuhan yang menjadi pegangan abang dalam hidup sehari-hari adalah Tuhan memelihara hidup kita, Matius 6:31-32. Abang selalu yakin bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, pa.


“Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya.

Duduk kita di sebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya.

Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.”

Pa, sebuah penggalan puisi ‘Tuhan Sembilan Senti’ karya Taufiq Ismail itu secara umum mampu menggambarkan betapa jahatnya cara asap rokok menyebarkan penyakit. Nikotin cuma satu dari sekitar 4.000 jenis zat beracun yang terkandung di dalam rokok. Jadi, kalau hanya untuk mengonsumsi 4.000 jenis zat beracun dan ‘membakar’ uang, untuk apa papa merokok? Untuk apa papa meracuni tubuh papa sendiri dan menyebabkan abang menderita penyakit yang kalau mendengar namanya aja orang akan bergidik ketakutan? Segeralah berhenti merokok, pa sebelum terlambat, sebelum tubuh papa semakin tua dan penyakit-penyakit semakin sering datang menghampiri. Papa sekarang memang sehat-sehat aja, tapi ingatlah bahwa tubuh papa itu perlahan-lahan akan semakin tua, lemah, dan semakin rentan terhadap adanya penyakit. Tuhan memberikan kita tubuh yang sehat saat kita dilahirkan ke dunia ini dan Ia mewajibkan kita untuk menjaganya, bukan meracuninya, pa. Kalau kelak abang udah berkeluarga dan memberikan cucu-cucu untuk papa dan mama, abang pengen melihat papa sebagai sosok seorang kakek yang walaupun udah tua, tapi tetap sehat dan bersemangat. Tidakkah pernah terpikirkan oleh papa untuk menjadi sosok itu? Abang mendorong papa untuk berhenti merokok sekarang karena abang, mama, dan adek-adek sangat sayang sama papa.

Yang abang maksudkan sebagai ‘berhenti merokok’ di sini adalah mengurangi merokok secara perlahan-lahan, bukan secara drastis dan tiba-tiba, pa. Kalau papa sekarang menghabiskan rokok dua bungkus sehari, cobalah perlahan-lahan papa mengurangi satu demi satu batang rokok yang papa isap. Abang tau mungkin sangat berat bagi papa untuk memulainya, tapi percayalah, pa bahwa tiada yang mustahil kalau kalau kita punya niat dan keyakinan yang teguh serta usaha yang keras dan doa yang tulus kepada Tuhan. Mudah-mudahan kalau abang pulang ke rumah tahun depan, papa merokok satu bungkus sehari atau bahkan udah berhenti total alias nggak merokok lagi.

Pernahkah papa menghitung udah berapa banyak uang yang papa habiskan hanya untuk membeli rokok selama lebih dari 20 tahun ini? Kalau aja papa pernah menghitungnya, papa pasti kaget bukan kepalang dan mungkin merasa menyesal. Kalau aja papa nggak merokok selama lebih dari 20 tahun ini, kita bisa punya satu rumah lagi yang lebih besar dan lebih indah dibandingkan rumah yang sekarang hampir selesai dibangun di Sibatu-batu. Bayangkan, pa! Uang yang papa habiskan hanya untuk merokok selama ini lebih banyak daripada biaya yang dihabiskan untuk membangun rumah kita sekarang! Bukankah itu sebuah jumlah yang fantastis, pa? Kalau aja papa nggak merokok selama ini, mungkin abang nggak akan menderita kanker dan nggak terhalang secara finansial untuk melanjutkan kuliah ke Jerman saat lulus SMA kemarin. Namun, yang berlalu biarlah berlalu. Yang lebih penting adalah apa yang akan kita lakukan sekarang untuk menciptakan masa depan kita nanti. Abang yakin kalau papa mulai berhenti merokok, papa akan merasa jauh lebih sehat. Segeralah memulainya, pa sebelum terlambat, sebelum semuanya menjadi lebih buruk, sebelum papa menjadi semakin tua dan tubuh papa semakin lemah, dan tentunya sebelum papa sakit karena papa sendiri nggak berhenti merokok, walaupun udah diperingatkan oleh orang-orang di sekitar papa yang sangat menyayangi papa. Kami masih butuh seorang papa yang sehat, pa. Kami masih butuh seorang papa yang selalu bisa memberikan kami nasihat-nasihat, walaupun kelak kami akan menjadi dewasa, bekerja, dan berkeluarga.

Abang yakin papa bisa berhenti merokok dengan mulai mengurangi batang demi batang rokok yang papa isap secara perlahan-lahan. Abang tantang papa! Tunjukkan bahwa papa bisa menerima dan menyelesaikan tantangan abang! Kami tunggu aksi papa. Semangat, pa!

WE LOVE YOU SO MUCH, SO STOP SMOKING, DADDY!

Teriring doa dan harapan,
Janson Nicholas Samosir"

begitu membaca surat ini, sang Ayah berhenti merokok, total.

Yang hobi merokok, semangat!!! Hidup tak kan berakhir hanya karena tak merokok, yang ada hidup akan segera berakhir karena merokok. Dan ingat, bukan hanya hidup anda tapi juga hidup orang-orang yang anda cintai.
Dan yang tidak merokok, jangan lupa ingatkan orang-orang di sekitar untuk berhenti merokok.

NB: SALAH SATU SYARAT CALON SUAMI ADALAH TIDAK MEROKOK
hehe... *nyicil kriteria*

Rabu, 13 Juni 2012

Studi Lapangan Day 1-3

Pertama kali Stulap itu rasanya..... nano nano. haha...

oke, akhirnya hidupku kembali berkutat di sekitar alun-alun. Bukan tempat yang asing memang, tapi, masuk ke dalam sebuah gedung bernama Dinas PPKAD ini terasa begitu asing bagiku. Tak ada yang ku kenal disana, tapi, mayoritas disana mengenalku. Karena apa? U know what lah, terkenal bukan karena namaku sendiri.... (dan itu terus terang sedikit membebani dan agak mengganggu independence in appearanceku) (-_-'!)

Dari awal sudah diwanti-wanti kok. Kabid nya bilang "Disini jarang ada kerjaan lho mbak." (aku ditempatin di Sekretariat) oke... udah ada gambaran lah kayak gimana nantinya. Tapi... ohoho... saya tidak bisa tinggal diam dong dianggurin begitu saja. Inget pesan ayah "nanya aja ada yang bisa dibantu apa ngga ke pegawai-pegawai yang ada disana." Jadilah aku giat 'menjajakan' diri. haha...

Alhamdulillah ada hasilnya. Setelah SKSD sama orang-orang disana seenggaknya hari pertama dapet pelajaran bikin Pakta Integritas (dan beruntung masih inget Mail Merge, padahal selama ini mas pegawai itu ngerjainnya manual. hoho..). Hari kedua dapet kerjaan bikin surat-surat.

Hari ketiga nih, nganggur sebenernya, soalnya hampir semua pegawai ngga berada di tempat karena ada acara penyuluhan PBB dari Kementerian Keuangan (berasa denger nama tempat kelahiran :D) Jadilah ruanganku berasa sepiiiii banget. Jadilah aku sibuk aja nyicil Laporan PKL sambil sesekali ikutan ngelawak bareng Mas Agus sama Mbah Yun (pegawai yang ngocol abis) yang juga tampak kesepian dan kurang kerjaan.

Tapi, beruntung agak siangan tampak Pak Darto (pegawai yang ngurusin pengadaan barang/jasa) ngutak-atik komputer sambil keliatan mikirin sesuatu. Hahai... jiwa SKSD ku kumat. setelah basa-basi ABCD jadilah aku berhasil mengambil hatinya *bahasamu lho* :D

Padahal tadinya aku kirain Pak Darto itu orangnya serem, habis mukanya kayak jarang senyum gitu, tapi ternyata..... lancar aman terkendali kok. haha. Dan ternyata beliau dari tadi mantengin komputer itu lagi nyusun HPS. Huooo... langsung ijo nih mata. Secara ni otak kayaknya udah disetting buat mikirin pengadaan barang/jasa melulu untuk beberapa minggu ke depan.

Akhirnya sampai jam istirahat siang Pak Darto dengan senang hati dan antusias ngajarin gimana bikin HPS. Manggut-manggut mendengarkan penjelasan Pak Darto. Ikutan mikirin angka yang tepat itu seru...

Jadi intinya... PKL Day 1-3 masih bisa dibilang banyak nganggurnya. tapi ngga papa lah, jadi punya banyak waktu buat nyicil laporan, hahahihi bareng Pak Agus sama Mbah Yun, ngerumpi bareng Mbak Nita, Mbak Dewi, Bu Sri sama Bu Tri, jalan-jalan berkunjung nengokin temen PKL lain, ngerecokin Pak Darto sama ngepoin Mas Erik yang punya banyak surat buat diketik ;D

SEMANGAT!!!
I LOVE U... BABY I'M NOT A MONSTER!
#lho?!?! haha


Sabtu, 09 Juni 2012

Monster

Lagu teratas di playlistku saat ini...

Watch it:
Music Video

Lyric Translation:
It’s been a while since we’ve met
Your face looks good
You got prettier, you were always beautiful in my eyes

But you seem a little different today
you seem unusually cold
The gaze you put on me is full of pity
In front of you, I look small

I act like it’s fine, I try to change the subject.
I have a lot I want to ask, but you cut me off.
Your hair flows in the wind, and it hits me on my cheeks and leave.
You turn around and leave just like that,
would I look silly if I try to hold you back?

I cant think of anything to say.
Trembling, you take a step, two steps back
You say that I scare you now
You are the one that makes me crazy

          Reff:
          I love you, baby i’m not a monster
          You know the old me
          When the time passes, I will have to disappear
          You’ll know then

          I need you, baby i’m not a monster
          You know me
          It ends,
          but if you leave me like this, I will die.

You say, let us be together forever no matter what happens.
You say, let us be together when we’re happy and when we’re sad.
You don’t (won’t) say that tomorrow..
I say, let’s love today as if it’s the last day.

the world without you is like a capital punishment
The world doesn’t go correctly without you
Your existence has become an incurable illness for me

Everyone may look at me with judging eyes,
but what really hurts is the fact that you have become a part of that 'everyone'.

-Back to Reff-

Don’t go, Don’t go, Don’t go, Don’t leave me
Don’t do this, Don’t do this, Don’t do this, You don’t seem to be yourself
Still far apart, With love still divided

Don’t look for me, Don’t look for me, Don’t look for me, Don’t look for me
Don’t do this, Don’t do this, Don’t do this,

Please remember the me that stood next to you
Please don’t ever forget me

-back to reff-

I think I’m sick,
I think I’m sick.

I think I’m sick,
I think I’m sick.