Kenangan adalah usia kedua dari seorang manusia...

Minggu, 02 Oktober 2011

Ima Ai ni Yukimasu / Be With You (Movie)























Cast:

Yūko Takeuchi as Mio Aio
Shido Nakamura as Takumi Aio
Yosuke Asari as Takumi (high school)
Chihiro Otsuka as Mio (high school)
Akashi Takei as 6 year old Yuji Aio
Yuuta Hiraoka as Yuji (18 years old)


Yūko Takeuchi as Mio Aio
Shido Nakamura as Takumi Aio
Yosuke Asari as Takumi (high school)
Chihiro Otsuka as Mio (high school)
Akashi Takei as 6 year old Yuji Aio
Yuuta Hiraoka as Yuji (18 years old)




kematian Mio Aio membuat suaminya Takumi dan Yuji, putra mereka yang berusia 6 tahun harus berjuang sendiri melanjutkan hidup. Takumi adalah seorang laki-laki yang menderita sebuah phobia aneh. Dia seringkali pingsan jika berada di tempat yang ramai,  

Sebelum meninggal Mio meninggalkan sebuah buku bergambar untuk Yuji. buku ini menceritakan bahwa seseorang yang sudah meninggal akan pergi ke sebuah tempat di luar angkasa yang bersinar seperti bintang. Orang tersebut akan muncul kembali di bumi jika musim hujan tiba dan akan kembali ke sana jika musim hujan berakhir. Karena membaca buku itulah Yuji merasa yakin bahwa legenda itu juga akan terjadi pada ibunya. Karena itulah Yuji begitu menantikan musim hujan tiba.

Dan ketika musim hujan tiba......
Sebuah keajaiban terjadi. Benarkah itu keajaiban? Tonton.






.













Komentarku:
Di awal memang sempat berpikir kalau ini hanya cerita khayal tapi setelah itu barulah aku mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Huuu, mewek itu pasti, ngga usah ditanya.

Aku suka Yuji (yang 6 tahun lho). Lucuuu, imuuuttt, gemesss liatnya. Tapi melihat ekspresinya saat menangis rasanya jadi ikutan sedih.

Ahhhh, terkadang kehilangan orang yang sangat disayangi membuat kita berharap suatu keajaiban bisa mengembalikan dia kembali. Keajaiban memang ada, tapi tak selalu terjadi sesuai yang kita inginkan. Karena itulah, selama masih ada waktu untuk membahagiakan mereka dan bahagia bersama mereka maka jangan ragu untuk memanfaatkan waktu tersebut sebaik mungkin. Walaupun sejak awal kita sudah tau bahwa pertemuan akan berujung dengan perpisahan, tapi setidaknya kita tidak akan meninggalkan orang yang kita cintai dengan penyesalan.

    Yankee Kun to Megane Chan
























    10 episode

    Cast:

    Narimiya Hiroki as Shinagawa Daichi
    Naka Riisa as Adachi Hana
    Hongo Kanata as Izumi Gaku
    Koyanagi Yu as Chiba Seiya
    Kawaguchi Haruna as Himeji Rinka 


    Daichi ini adalah seorang siswa SMA yang terkenal sebagai seorang preman. Sudah puluhan (atau mungkin ratusan) orang yang sudah dia kalahkan dalam perkelahian. Di sekolah ia ditakuti oleh semua murid. tapi kalau di rumah, dia adalah seorang adik dan seorang anak yang teraniaya.
    Di sekolah lah Daichi bertemu dengan Hana, seorang murid perempuan yang cupu (tipe-tipe siswa teladan begitu) yang keras kepala dan berkemauan kuat (agak ngotot sih sebenernya). Mereka seolah mungkin baru pertama kali bertemu, tapi sebenarnya dulu mereka sudah terlibat dengan suatu insiden yang juga menjadi sebab kenapa Daichi sampai sekarang disebut Yankee.

    Di balik sosok Hana yang benar-benar lugu ternyata tersimpan sebuah rahasia besar. Apakah itu? Tonton.

    Izumi, siswa terpintar di kelas yang (sok) cool dan good looking ini juga ternyata punya rahasia besar.

    Komentarku:
    berasa dibanting ke bumi nih nonton ni dorama. Setelah nonton sosok J di Bloody Monday lalu kemudian nonton dorama ini asli langsung depresi gitu (lebay). Ya sudahlah. Masih ada Kanata Hongo ini, masih ada penyeimbangnya lah.
    Dari segi cerita aku ngga terlalu suka. Agak membosankan dan kurang nyampe aja ke hati. Seperti ada yang kurang gitu.
    Menyelesaikan dorama ini pun butuh waktu yang cukup lama soalnya agak males nontonnya. hehe. 







      My Boss My Hero




      10 eps

      Cast: 

      Nagase Tomoya as Sakaki Makio
      Tegoshi Yuya as Sakurakoji Jun
      Tanaka Koki as Manabe Kazuya
      Aragaki Yui as Umemura Hikari
      Murakawa Eri as Hagiwara Saki
      Kikawada Masaya as Sakaki Mikio



      Sinopsis:
      Sakaki Makio, also known as "Tornado" is a tough 27-year-old high school drop-out. By academic standards, he's pretty dumb. His father decides to force Makio to return to high school to receive his diploma and he asks an old friend who happens to be the principal of a nearby school to admit Makio. If Makio doesn't graduate, the position of boss will be given to his younger brother, Mikio.

      Furthermore, he must pose as a 17-year-old during school hours and in the presence of any classmates or teachers outside of school. If his cover is blown, it would be the end of his high school career as well as his hopes to become boss. Things start out rough and tough as Makio's violent temper is tested. As the lessons and days go by he learns there is much more to school than just tests and studying.

      Komentarku:
      Entah memang perannya seperti itu atau gimana, tapi menurutku actingnya Yuya kaku. gimana gitu ngeliatnya. Kalau Yui ngga ragu lagi lah ya. Apalagi Om Nagase, udah no comment lah.

      Akhirnya jelas sudah yang namanya Tanaka Koki. Terakhir liat dia di Kowai Nichiyoubi dimana dia masih sangat-sangat sangat imut, dan begitu ngeliat disini Wooooo beda sekali. Aku sudah tidak mengenalinya lagi. hehe, ilang imutnya, serem jatohnya.:D

      Dorama ini lucu, tapi bosen nontonnya. haha, (jadi gimana nih maksudnya?)
      kalau pas lagi lucu ya lumayan bikin ketawa lah, tapi kalau ngga pas lagi lucu ngga tau kenapa maleeesss banget nontonnya. Tanya kenapa? *sayasudahtaujawabnnya :D

      Selasa, 20 September 2011

      Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni

      tak ada yang lebih tabah
      dari hujan bulan juni
      dirahasiakannya rintik rindunya
      kepada pohon berbunga itu

      tak ada yang lebih bijak
      dari hujan bulan juni
      dihapusnya jejak-jejak kakinya
      yang ragu-ragu di jalan itu

      tak ada yang lebih arif
      dari hujan bulan juni
      dibiarkannya yang tak terucapkan
      diserap akar pohon bunga itu 


      *Pastilah ada yang lebih tabah, lebih bijak, dan lebih arif dari hujan bulan Juni di dunia ini . Hanya merasa kata-kata itu bergitu indah.

      Kisah Nyata Pengorbanan Seorang Istri

      Ada cerita bagus nih. Aku sudah pernah membaca (lebih dari satu kali mungkin) cerita dengan plot yang mirip mirip. Tapi, gaya bahasa penulis yang berbeda-beda bisa membuat ku seolah baru pertama kali membaca cerita sebagus ini.

      Cerita ini adalah kisah nyata…dimana perjalanan hidup ini ditulis oleh seorang istri dalam sebuah laptopnya.
      Bacalah, semoga kisah nyata ini menjadi pelajaran bagi kita semua.

      Cinta itu butuh kesabaran…
      Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita ???

      ************

      Hari itu,,,aku dengan nya berkomitmen untuk menjaga cinta kita..

      Aku menjadi perempuan yg paling bahagia…..

      Pernikahan kami sederhana tapi sangat meriah…..

      Ia menjadi pria yang sangat romantisan pada waktu itu.

      Menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan
      & mapan pula

      Ketika kami pacaran dia sudah sukses dalam karir nya.

      Kami berbulan madu di tanah suci,,itu janjinya ketika kami berpacaran

      Setelah menikah aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci….

      Aku sangat bahagia dengan nya,,diya sangat memanjakan aku…. Sangat terlihat rasa cinta dan sayangnya pada ku.

      Banyak orang yang bilang,kami pasangan yang serasi. Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Aku bahagia menikah dengannya.

      ************

      5 Tahun sudah kami menikah, sangat tak terasa waktu berjalan, walaupun kami hanya berdua saja.

      Karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil di tengah keharmonisan rumah tangga kami.

      Karena dia anak lelaki satu – satunya dalam keluarga nya,,jadi aku harus berusaha untuk dapat meneruskan generasi nya…

      Alhamdulillah suamiku mendukung ku…. Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan NYA.

      Tapi keluarga nya mulai resah,, Dari awal kami menikah ibu & adiknya tidak menyukaiku,, aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka,,tapi aku menutupi dari suami ku…..

      didepan suami ku,,mereka sangat baik pada ku,,tapi dibelakang suami ku,,aku dihina – hina oleh mereka…

      Pernah suatu ketika, 1 tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan,, , mobilnya hancur

      Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi seorang janda.

      Ia dirawat dirumah sakit,,pada saat dia belum sadarkan diri,,aku selalu menemaninya siang & malam, kubacakan ayat – ayat suci Al – Qur’an,aku sibuk bolak – balik rumah sakit dan tempat aku melakukan aktivitas sosialku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karean kecelakaan.

      Ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami,,aku melihat didalam kamarnya ada ibu, adik – adiknya dan teman – teman suamiku, dan satu lagi aku melilhat seorang wanita yg sangat akrab dengan ibunya. Mereka tertawa menghibur suamiku.

      Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat suami ku sudah sadar,,tapi aku tak boleh sedih di depannya.

      Kubuka pintu yg tertutup rapat itu,sambil mengatakan “Assalammu’alaikum” mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku,,, suamiku menatapku penuh manja,,mungkin ia kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup. Tangannya melambai,,mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya yg erat. Setelah aku menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata “Assalammu’alaikum” , ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih tapi penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya. Ibu nya lalu berbicara sama aku …

      “Fis, kenalakan ini Desi teman Fikri”

      Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah mencintainya, perempuan itu bernama Desi, dan diya sangat akrab dengan keluarga suamiku. Dan akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga. Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku bicara di dalam ruangan,,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.

      Aku sibuk membersihkan & mengobati luka – luka di kepala suamiku,,,baru sebentar aku membersihkan mukanya,,tiba – tiba adik ipar ku yg bernama Dian mengajakku keluar,ia minta ditemani ke kantin. Dan suamikupun mengijinkannya. Aku pun menemaninya.

      Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata ” lebih baik kau pulang saja ” Ada kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja. ”

      Aku pun tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abang harus banyak beristirahat, karena sikologisnya masih labil,, Aku berdebat dengannya mengapa aku tidak boleh pamitan pada suamiku, tapi tiba – tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia mengatakan hal yg
      sama, ia akan memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang tak pamitan pada nya,
      toj suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah suamiku tetap saja membenarkannya, akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata. Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya
      bisa menangis dlm kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.

      ************

      Hari itu, aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut kehilangannya, aku takut cintanya dibagi denagn yang lain. Pagi itu, pada saat aku membersihakn pekarang rumah kami, suamiku
      memanggil ku ke taman belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di ayunan favorit
      kami, sambil melihat ikan – ikan yang bertaburan di kolam air mancur itu.
      Aku bertanya ” Ada apa kamu memanggil ku ?”

      Ia berkata ” Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang
      ”
      Aku menjawab ” Ia sayang aku tahu, aku sudah mengemasi barang – barang kamu di travel bag dan kamu sudah pegang tiket bukan ?”

      “Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga sdh lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan aku kan pulang dengan mama ku ” Jawab nya tegas

      “Mengapa baru bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu disana ?” tanya ku balik kepada nya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa karena ia baru memberitahu rencana kepulanggannya itu, padahal aku bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.

      ” Mama minta aku yang menemani nya saat pulang nanti ” jawab nya tegas

      ” Sekarang aku ingin seharian dengan kamu, karena nanti kita 3 minggu tidak bertemu, ya kan ?” lanjut nya lagi sambil memeluk ku dan mencium keningku.
      Hatiku sedih, dengan keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan pada nya.
      Bahagianya aku, dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang & cintanya.
      Walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.

      Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku, tapi karena keluarga nya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu pada ku karena suamiku sangat sayang pada ku, aku memutuskan agar ia saja yg pergi, dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami. Karena ini acara sakral bagi keluarganya. Jadi seluruh keluarga nya harus komplit, aku pun tak diperdulikan oleh keluarganya harus datang atau tidak, tidak hadir justru membuat mereka sangat senang, aku pun tak mau membuat riuh keluarga ini.

      Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluannya yang akan dibawa ke Sabang, ia menatapku dan menghapus airmata yang jatuh dipipiku lalu aku peluk erat dirinya, hati ini bergumam seakan terjadi sesuatu,,tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan ditinggal pergi olehnya.

      Aku tidak pernah di tinggal pergi selama ini, karena kami selalu bersama - sama kemana pun ia pergi.

      Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian tidak punya teman, hanya pembantu saja teman ngobrolku.

      Hati ini sedih akan di tinggal pergi oleh nya.

      Sampai keesokan hari nya, aku menangis..menangisi kepergiannya. Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak boleh berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti
      akan selalu menelpon ku.

      ************

      Berjauhan dengan suamiku, sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri. Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadi aku tak terlalu kesepian di tinggal pergi ke Sabang. Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami buruk,saat ia di sana aku pun jatuh sakit…rahimku sakit sekali seperti dililit oleh tali,,,tak tahan aku menahan rasa sakit dirahimku ini,sampai – sampai aku mengalami pendarahan,, aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki - lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku terkena kanker mulut rahim stadium 3…. Aku menangis,,apa yang bisa aku banggakan lagi,,mertuaku akan semakin menghinaku,, ,suami ku yang malang,,yang berharap akan punya keturunan dari rahimku… Aku tak bisa memberikannya keturunan. Dan aku hanya memeluk adikku.

      Aku kangen pada suamiku, aku menunggu ia pulang,,kapan ia pulang, aku tak tahu..

      Sementara suamiku disana,,aku tidak tahu mengapa ia selalu marah – marah
      jika menelponku,, bagaimana aku akan cerita kondisiku jika ia selalu marah - marah terhadapku,,

      Lebih baik aku tutupi dulu,,dan aku juga tak mau membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang. Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan cerita pada nya. Setiap hari aku menanti suami ku pulang, hari demi hari aku hitung….

      Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat foto - foto kami, ponselku berbunyi, menandakan ada sms yang masuk.

      Ku buka di inbox ponselku, ternayta dari suamiku yang sms, ia menulis “aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulang nya satu hari lagi, aku aku kabarin lagi”.

      Hanya itu saja yang diinfokannya, aku ingin marah, tapi aku pendam saja ego yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba,,aku menantinya di rumah. Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan aku akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yg buruk akhir – akhir ini.

      Bel pun berbunyi, kubuka kan pintu untuknya ia pun mengucap salam, sebelum masuk aku pegang tangannya ke depan teras, ia tetap berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan ku cuci kedua kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami, setelah itu aku pun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksi nya …

      Masya Allah ia tidak mencium keningku, ia langsung naik keatas, ia langsung mandi dan tidur,tanpa bertanya kabarku..

      Aku hanya berpikiran, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaan nya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta. Biasa nya kami selalu berjama’ah, tapi karena melihat nya tidur sangat pulas, aku tak tega membangun kannya, aku helus mukanya, aku cium kening nya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka’at.

      ************

      Aku mendengar suara mobinya, aku terbangun lalu aku liat dia dari balkon kamar kami dia bersiap – siap untuk pergi, aku memanggil nya tapi ia tak mendengar, lalu aku langsung ambil jilbabku, aku lari dari atas ke bawah tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku, aku mengejarnya tapi ia
      begitu cepat pergi,,ada apa dengan suamiku…mengapa ia sangat aneh terhadapku ?

      Aku tidak bisa diam begitu saja firasatku ada sesuatu. Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuaku, kebetulan Dian yang angkat telpon nya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang terjadi dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab “Loe pikir aja sendiri!!!” telpon pun langsung terputus.

      Ada apa ini ? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubah setelah ia pulang dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara padaku, apalagi memanjakan ku.

      Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas tanggung jawabnya sebagai seorang suami, kami berbicara seperlunya saja, aku selalu di introgasinya, aku dari mana dan mengapa pulang terlambat, ia bertanya dengan nada yg keras, suamiku telah berubah.

      Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah di tuduh nya berzina dengan mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku serendah itu, tapi aku selalu ingat, sebagaimana pun salahnya seorang suami, status suami tetap di atas para istri, itu yang aku pegang, aku hanya berdo’a agar suamiku sadar akan prilakunya. *******

      2 Tahun berlalu, suamiku tak berubah juga, aku menangis tiap malam, lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru saja kenal, kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna, walaupun kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya & menyiapi segala yang ia perlukan. Penyakitku pun masih aku simpan dengan baik dan ia tak pernah bertanya obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna, harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan berakhir.

      Bersyukurlah, aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai seorang guru gaji jadi aku tak perlu repot – repot meminta uang pada nya hanya
      untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.

      Sungguh suami yang dulu aku puja, aku banggakan sekarang telah menjadi orang asing, setiap aku tanya ia selalu meyuruhku untuk berpikir sendiri. Tiba – tiba saja malam itu, setelah makan malam selesai, suamiku memanggilku.

      “ya ada apa Yah !” sahutku dengan memanggil nama kesayangannya “Ayah”

      “Lusa kita siap – siap ke Sabang ya !” Jawabnya tegas

      “Ada apa ?” Mengapa ?” sahutku penuh dengan keheranan

      Astaghfirullah. ..suami ku yang dulu lembut menjadi kasar, diya mebentakku,,tak ada lagi diskusi anatara kami.

      Dia mengatakan ” Kau ikut saja jgn byk tanya !!! ”

      Aku pun lalu mengemasi barang – barang yang akan dibawa ke Sabang sambil menangis,sedih karena suamiku yang tak ku kenal lagi.

      2 Tahun pacaran, 5 tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia menjadi orang asing buat ku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh cinta yang dihiasi foto pernikahan kami sekarang menjadi dingin, sangat dingin dari batu es. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berontak tapi aku tak bisa, suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong dengan nada tinggi, suka membanting barang – barang, dia bilang perbuatan itu menunjukkan ketidakhormatan kedapanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini sendiri.

      ************

      Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman aku tidak tidur, karena terus berpikir. Keluarga besar nya telah berkumpul disana, termasuk ibu & adik – adiknya, aku tidak tahu ada acara apa ini.. Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam kamar tua itu, ia pun keluar bergabung dengan keluarga besarnya.

      Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dlm lemari tua yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua itu telah ada sebelum suamiku lahir. Tiba – tiba Tante Lia, tante yang sangat baik pada ku memanggil ku untuk segera berkumpul diruang tangah, aku pun ke ruang keluarga yang berada di tengah rumah besar itu, rumah zaman peninggalan belanda diaman langit - langit nya lebih dari 4 meter. aku duduk disamping suamiku, suamiku menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya pada nya, tiba – tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak atas semuanya membuka pembicaraan.

      “Baiklah,karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau Fisha ! ” Nenek nya bicara sangat tegas.. Dengan sorot mata yang tajam. ” Ada apa ya Nek ?” sahutku dengan penuh tanya.. Nenek pun menjawab ” Kau telah gabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda – tanda kehamilan yang sempurna, sebab selama ini kau selalu keguguran !!’

      Aku menangis, untuk inikah aku diundang ke mari, untuk dihina atau dipisahkan dengan suamiku.

      “Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu, sebelum kau menikah dengannya, tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur, dan akhirnya menikahlah ia dengaa kau.” Neneknya berbicara sangat lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.

      Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya. “Dan aku dengar dari ibu mertua mu kau pun sudah berkenalan dengannya” Neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.

      Sedangkan suamikku hanya diam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya keberanian.

      Nenek nya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari pembicaraannya ialah dengan wajah yang sangat menantang ia berkata ” kau maunya gimana ? kau di madu atau diceraikan ?”

      Masya Allah…… kuat kan hati ini, aku ingin jatuh pingsan, hati ini seakan remuk mendengar nya, hancur hati ku, mengapa keluarganya bersikap seperti ini terhadapku..

      Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulau kayu tersebut, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.

      “Fish, jawab !! ” Dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab

      Aku langsung memegang tangan suamiku, dengan tangan yang dingin dan gemetar aku menjawab dengan tegas……. ” Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat
      berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami.”

      Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cinta ku di bagi, pada saat
      itu juga suami ku memandangku dengan tetesan air mata, tapi mata ku tak
      sedikit pun menetes di hadapan mereka. Aku lalu bertanya kepada suami ku, “Ayah siapakah yang akan menjadi sahabatku dirumah kita nanti Yah ? ”

      Suamiku menjawab ” Dia Desi ! ”

      Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara ” Kapan pernikahan nya berlangsung ? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan ini Nek ?”

      Ayah mertuaku menjawab “Pernikahannya 2 minggu lagi.”

      ” Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruh nya mengurus KK kami ke kelurahan besok” setelah berbicara seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.

      Tak tahan lagi, air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku buka pintu kamar, aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak, tapi aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah dibagi,,sakit. ..diiringi akutnya penyakitku. Apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini ?

      Aku berjalan menuju ke meja rias, ku buka jilbabku, aku bercermin sudah tidak cantikkah aku ini, ku ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari rontok, ku lihat wajahku,,ternyata aku memang
      sudah tidak cantik lagi, rambutku sudah hampir habis, kepalaku sudah botak dibagian tengahnya.

      Tiba – tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suami ku datang, ia berdiri dibelakangku, ,tak kuhapus air mata ini aku langsung memandangnya dari cermin meja rias itu.

      Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan “terimah kasih ayah, kamu memberi sahabat kepada ku, jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti ! iya kan ?”

      Suami ku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia tersenyum dan bertanya knp rambutku rontok, dia hanya mengatakan jangan salah memakai shampo, dalam hati ku mengapa ia sangat cuek ? ia sudah tak memanjakan ku lagi.. Lalu dia bilang bilang “sudah malam, kita istirahat
      yuk ” !

      “Aku sholat isya dulu baru aku tidur” jawab ku tenaang.

      Dalam sholat, dalam tidur aku menangis, ku hitung waktu, kapan aku akan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan suamiku. Aku tak tahu kalo Desi orang Sabang juga. Sudahlah ini mungkin takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakan
      aku, diamana rasa sayang dan cintanya itu.

      ************

      Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di laptopku.

      Di laptop aku menulis saat – saat terakhirku melihat suamiku, aku marah pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku yang tidur pulas, apa salahku sampai ia berlaku kejam kepada ku. Aku save di my document yang bertitle “Aku mencintaimu Suamiku ”

      Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk keluar, aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, mungkin aku takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat
      lama,, lalu suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan berbicara padaku.

      “Apakah kamu sudah siap ?”
      Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :

      “Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk ke dalam rumah ini, cucilah kaki nya sebagaimana kamu mencuci kaki ku dulu, lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do’a di ubun - ubunya sebagaimana yang kamu lakukan pada ku dulu lalu setelah itu…..” tak
      sanggup aku ingin meneruskan pembicaraan ini, aku ingin menangis meledak

      Tiba – tiba suamiku menjawab “lalu apa Bunda ?”

      Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk,aku langsung menatapnya dengan mata yang berbinar – binar…

      “bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan ?” pinta ku tuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.

      Dia mengangguk dan berkata ” Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa bunda ?” sambil ia menghelus wajah dan menghapus airmataku, dia agak sedikit membungkuk karena diya sangat tinggi, aku hanya sedada nya saja.

      Dia tersenyum, sambil berkata ” Kita liat saja nanti ya !” dia memelukku dan berkata, “bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah temui selain mama” lalu ia mencium keningku, aku langsung memeluk nya erat dan berkata ” Ayah, apakah ini akan segera berakhir ? Ayah kemana saja ?
      Mengapa ayah berubah ? Aku kangen sama ayah ? Aku kangen belaian kasih sayang ayah? Aku kangen dengan manjanya ayah ? Aku kesepian ayah ? Dan satu hal lagi yang harus ayah tau bahwa aku tidak pernah berzinah ! Dulu waktu awal kita pacaran,aku memang belum bisa melupakannya, setelah 4 bulan bersama ayah baru bisa aku terima, jika yang dihadapanku itu adalah lelaki yang aku
      cari.” Bukan bearti aku pernah berzina ayah. Aku langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata ” Aku minta maaf ayah telah membuatmu susah”

      Saat itu juga, diangkatnya badanku,ia hanya menangis.

      Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali. Tiba – tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan ku, dan ia bertanya ” bunda baik – baik saja kan” tanya nya dengan penuh khawatir.

      “aku pun menjawab, bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu itu sudah mebuatku baik Yah” aku tak bisa bicara sekarang. Karena dia akan menikah. Aku tak mau buat diya khawatir. Dia harus khusyu menjalani acara prosesi akad nikah tersebut.

      ************

      Setelah tiba dimasjid, ijab qabul pun dimulai. Aku duduk disebrang suamiku.

      Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu membuat hati ini cemburu, ingin berteriak mengatakn “Ayah Jangan” tapi aku ingat akan kondisi ku.

      Jantung ini berdebar kencang, ketika mendengar ijab qabul tersebut. Begitu ijab qabul selesai, aku menarik napas panjang, Tante Lia, tante yang baik itu, memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan hati ini, ya,,aku kuat.

      Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding di pelaminan. Orang – orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka melihatku sangat aneh, wajahku yang selalu tersenyum tapi hatiku menangis.

      Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja, tak mencuci kaki nya. Aku sangat heran dengan prilaku nya. Apa iya, dia tidak suka dengan pernikahan ini ?

      Sementara itu Desi sambut hangat di dalam keluarga ku
      …

      Sementara itu Desi sambut hangat di dalam keluarga suamiku,tak seperti aku yang di musuhinya.

      Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa !! Suamiku akan tidur dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tau apa yang mereka lakukan didalam.

      1/3 malam, pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untukberwudhu, aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa ruang tengah, ku dekati lalu ku lihat…. Masya Allah, suamiku tak tidur
      dengannya,ia tidur disofa, aku duduk disofa itu sambil menghelus mukanya yang lelah, tiba – tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.

      “kamu datang ke sini, aku pun tau ” ia langsung berkata seperti itu, aku tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat lail, ia mengatakan “maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita karena ego nya aku. Besok kita pulang ke Jakarta, biar Desi pulang denagn mama,papa Dan juga adik – adikku”

      Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku untuk istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja, sudah lama ini tidak terjadi. Ya Allah, apakah Engkau akan menyuruh malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, aku telah meresakan
      kehadirannya saat ini. Tapi masih bisakah engaku ijinkan aku untuk mersakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini.

      Suamiku berbisik, “Bunda kok kurus ?”

      Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan.

      Aku pun berkata “Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi ?”

      ” Aku kangen sama kamu Bunda ” Aku tak mau menyakitimu lagi, kamu sudah terluka oleh sikapku yang egois” Dengan lembut suamiku menjawab seperti itu.

      Lalu suamiku berkata, ” Bun, ayah minta maaf telah menelantarkan bunda… Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalo bunda tidak tulus mencintai ayah, bunda seperti mengejar sesuatu, seperti harta ayah, dan satu lagi ayah pernah melihat sms bunda dengan mantan pacar bunda dimana isinya klo bunda gk mw berbuat seperti itu, dan seperti itu di beri tanda kutip ( “seperti itu” ), ayah ingin ngomong tapi takut bunda tersinggung, dan ayah berpikir klo bunda pernah tidur dengannya sebelum bunda bertemu
      ayah, terus ayah dimarahi oleh keluar ayah karena ayah terlalu memanjakan bunda ”

      Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada kepercayaan didirinya, hanya karena omongan keluarganya, yang tidak pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku ini.

      Aku hanya menjawab “Aku sudah ceritakan itu kan Yah, aku tidak pernah berzinah, dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya mengejar hartamu, mengapa kamu, banyak lelaki yang lebih mapan darimu waktu itu Yah. Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari menangis karena menderita mencintaimu.

      Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku sendirian di kamar pengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluaraganya juga. Karna aku tak mau mati dalam hati yang penuh denagn rasa benci.

      ************

      Keesokan harinya….. …..

      Katika aku ingin bangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, rahimku sakit sekali..aku pendarahan.. suamiku kaget…

      Suamiku kaget bukan main, ia langsung menggendongku.
      Aku pun dilarikan ke rumah sakit….
      Jauh sekali aku mendengar suara zikir suamiku….
      Aku merasakan tanganku basah…
      Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran.

      Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan ” Bunda,,Ayah minta maaf ,,,,!!”

      Berapa kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hati ku, apa ia tahu apa yang terjadi padaku.

      Aku berkata dengan suara yang lirih ” Yah….Bunda ingin pulang,,bunda ingin bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya Yah….”

      “Ayah jangan berubah lagi ya !!! Janji ya Yah… !!! Bunda sayang banget sama Ayah ”

      Tiba – tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakit nya semakin keatas, kakiku sudah tak bisa bergerak lagi, aku tak kuat lagi memegang tangan suamiku, kulihat wajahnya yang tampan, linangan air matanya.

      Sebelum mata ini tertutup ku lafazkan kalimat syahadat dan ditutup denagn kalimat tahlil.

      \\\\\\\\\\\\ \\\\\\\\\ \\\\\\\\\ \\\\\\\\\ \\\\\\\\\
      \\\\\\\\\ \\\\\\\\\
      \\\\\\\\\ \\\\\\\\\ \\\\\\\\\ \\\\\\\\\ \\\\\\\\\ \\\\\\\\\
      \\\\\\\\\

      Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku

      Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka,,

      Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami pacaran samapai kami menikah.

      Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafas ku.

      Untuk Ibu mertuaku : “Maafkan aku telah hadir didalam kehidupan anakmu sampai aku hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma, dari dulu aku selalu berdo’a agar Mama merestui hubungan kami. Mengapa engkau fitnah diriku didepan suamiku, apa engkau punya bukti nya Ma. Mengapa engkau sangat cemburu padaku Ma ? Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku. Dengan Desi kau sangat baik tetapi dengan ku, menantumu kau bersikap sebaliknya.”

      ************ ********* *********

      Setelah ku buka laptop,ku baca curhatan istriku

      Ayah,,mengapa keluargamu sangat membenciku

      Aku dihina oleh mereka ayah.

      Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu ?

      Pernah suatu ketika, aku bertemu Dian di jalan, aku menegornya karena dia adik iparku tapi aku disambut denagn wajah ketidak sukaannya. Sangat terlihat Ayah.

      Tapi ketika engaku bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa seperti itu ayah.

      Aku tak bisa berbicara ttg ini padamu, karen aku tahu kamu pasti membela adikmu, tak ada gunanya Yah.

      Aku diusir dari rumah sakit.

      Aku tak boleh merawat suamiku.

      Aku cemburu paad Desi yang sangat akrab dengan mertuaku

      Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku

      Aku sangat marah….

      Jika aku membicarakn hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela Desi dan ibunya.

      Aku tak mau sakit hati lagi.

      Ya Allah kuatkan aku,,maafkan aku

      Engkau Maha Adil.

      Berilah keadilan ini padaku Ya Allah

      Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku.

      Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja - manja lagi padamu.

      Aku kuat ayah dalam kesakitan ini.

      Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku.

      Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah.

      Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu

      Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui

      Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku

      Aku harus sadar diri

      Ayah,,sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu

      Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku ?

      Ayah aku masih tak rela

      Tapi aku harus ikhlas menerimanya

      Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya

      Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku

      Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir

      Sebelum ajal ini menjemputku

      Ayah…aku kangen ayah

      Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu Bun

      Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi ke Pulau Kayu ini

      Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwana pink yang mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.

      Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur.

      Bunda akan selalu hidup dihati ayah.

      Bunda… Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah…

      Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku, rambutku tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.

      Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun aku tak perduli, dalam kesendirianmu. …

      Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih bisa tidur dengan belaian tangan Bunda yang halus.

      Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda..

      Bunda,,kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui.

      Aku menyesal telah asik dalam keegoanku..

      Bunda maafkan aku.. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu terlihat ditidurmu yang panjang.

      Maafkan aku , tak bisa bersikap adil dan membahagiakan mu, aku selalu mengiyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka. Maafkan aku ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu saja.

      Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana ?

      Apakah Bunda tetap menanti ayah disana ? Tetap setia dialam sana ?

      Tunggulah Ayah disana Bunda……

      Bisakan ? Seperti Bunda menunggu ayah di sini…… Aku mohon…..

      Ayah Sayang Bunda….

      ************ ********* *********

      sekian
      sumber: kaskus.us

      Menyentuh....untuk orang se sensi aku, cukup mengundang titik air mata.

      Sapardi Djoko Damono, Jangan Ceritakan, 1971

      bibir-bibir bunga yang pecah pecah. Mengunyah matahari. Jangan ceritakan padaku tentang dingin. Yang melengking malam-malam – lalu mengembun.