Kenangan adalah usia kedua dari seorang manusia...

Jumat, 27 September 2013

...


"Yang pergi biasanya akan menemukan hal-hal baru, menggantikan kenangan yang lalu. Yang ditinggalkan selalu berkutat dengan kenangan itu."

cr: Tere Liye

Sabtu, 31 Agustus 2013

Pohon...


Melihat pohon yang kokoh dengan akar yang menghujam tanah 
jangan lihat sekarang 
lihatlah terpaan angin, badai yang menerjang di masa lalunya

Senin, 15 Juli 2013

Sudut Pandang yang Sempit

          Suatu hari seorang suami pulang kerja dan mendapati tiga orang anaknya sedang berada di depan rumah. Semuanya bermain lumpur, dan masih memakai pakaian tidur. Berarti semenjak bangun tidur, mereka belum mandi dan belum berganti pakaian.

          Sang suami melangkah menuju rumah lebih jauh. Ternyata … kotak-kotak bekas bungkus makanan tersebar di mana-mana. Kertas-kertas bungkus dan plastik bertebaran tidak karuan, dan… pintu rumah bagian depan dalam keadaan terbuka.

          Begitu ia melewati pintu dan memasuki rumah… masyaAllah… kacau… berantakan. Ada lampu yang pecah, ada sajjadah yang tertempel dengan permen karet di dinding. Televisi dalam keadaan on dan dengan volume maksimal. Boneka bertebaran di mana-mana. Pakaian acak-acakan tidak karuan menyebar ke seluruh penjuru ruangan.

          Dapur? Ooooh tempat cucian piring penuh dengan piring kotor. Sisa makanan pagi masih ada di atas meja makan. Pintu kulkas terbuka lebar.

          Sang suami mencoba melihat lantai atas. Ia langkahi boneka-boneka yang berserakan itu. Ia injak-injak pula pakaian yang berserakan tersebut. Maksudnya adalah hendak mendapatkan istrinya, siapa tahu ada masalah serius dengannya.

          Pertama sekali ia dikejutkan oleh air yang meluber dari kamar mandi, semua handuk berada di atas lantai dan basah kuyup. Sabun telah berubah menjadi buih. Tisu kamar mandi sudah tidak karuan rupa, bentuk dan tempatnya. Cermin penuh dengan coretan-coretan odol, dan… begitu ia melompat ke kamar tidur, ia dapati istrinya sedang tiduran sambil membaca komik!!!

          Melihat kepanikan sang suami, sang istri memandang kepadanya dengan tersenyum. Dengan penuh keheranan sang suami bertanya, “Apa yang terjadi hari ini wahai istriku?!!”.

          Sekali lagi sang istri tersenyum seraya berkata,“Bukankah setiap kali pulang kerja engkau bertanya dengan penuh ketidakpuasan, ‘Apa sih yang kamu kerjakan hari ini wahai istriku?’, bukankah begitu wahai suamiku tersayang?!”

          “Betul” jawab sang suami.

          “Baik” kata sang istri, “Hari ini, aku tidak melakukan apa yang biasanya aku lakukan, semoga dengan begitu engkau tahu apa yang selama ini aku kerjakan”.

*****

Pesan yang ingin disampaikan adalah:

1. Penting sekali semua orang memahami, betapa orang lain mati-matian dalam menyelesaikan pekerjaannya, dan betapa besar pengorbanan yang telah dilakukan oleh orang lain itu agar kehidupan ini tetap berimbang, berimbang antara MENGAMBIL dan MEMBERI, TAKE and GIVE.

2. Dan … agar tidak ada yang mengira bahwa dialah satu-satunya orang yang habis-habisan dalam berkorban, menanggung derita, menghadapi kesulitan dan masalah serta menyelesaikannya.

3. Dan … jangan dikira bahwa orang-orang yang ada di sekelilingnya, yang tampaknya santai, diam, dan enak-enakan … jangan dikira bahwa mereka tidak mempunyai andil apa-apa.

4. Oleh karena itu, HARGAILAH JERIH PAYAH DAN KIPRAH ORANG LAIN dan JANGAN MELIHAT DARI SUDUT PANDANG YANG SEMPIT.

Sumber: Islamedia - Email Ust. Musyaffa AR

Orang Gaptek VS SPG Gaptek

*Just for Fun

Dua orang itu berbincang di sebuah pameran komputer.

OG      : "Mbak, mau nanya dong? 'ENTER' itu maksudnya apa?"
SPG    : (menjawab dengan sigap) "Kayaknya untuk mempercepat program deh Mas!"
OG      : "Mempercepat gimana maksudnya, Mbak?"
SPG    : "Ya biar cepet kerjanya, Mas. kalo tulisannya ENTAR, kan jadinya lamaaa!!"
OG       : "Oww... Tanya lagi ya, Mbak. Ini saya sudah masuk ke Internet Explorer. Kok saya ketik Facebook.com, ngga keluar apa-apa yah?"
SPG    : "Lah, di depannya Mas sudah ngetik www belum Mas?"
OG      : "Memangnya harus ya Mbak? sebenarnya www itu apa?"
SPG    : "Eeehhmmm... Apa yah? Pokoknya kalo mau masuk ke website memang harus ketik www itu Mas. Kode permisi gitu lhooh. kayak nya kalau nggak salah singkatan dari Wassalammualaikum Warohmatullohi Wabarokaatu.."

Minggu, 26 Mei 2013

...

Rasa yang datangnya dari hati, maka akan sampai juga ke hati.
Apa yang kau sampaikan pada Tuhan, mungkin telah disampaikan pula padaku.
Terimakasih...

Kamis, 23 Mei 2013

Menikahi Almamater, Jurusan, dan Profesi


Ini adalah tulisan yang berangkat dari sebuah pernyataan di lini masa milikAndina Avika beberapa waktu yang lalu. Ada salah satu menikah jenis baru, yaitu menikahi almamater. Tidak hanya itu, lebih spesifik lagi adalah menikahi almamater-jurusan-dan profesi.

Semakin kesini, semakin aneh-aneh saja pemikiran para remaja yang terkontaminasi oleh pemikiran-pemikiran materialistis tentang keduniawian yang teramat sangat.
Lagi-lagi harus dibahas masalah seperti ini, ya tidak apalah, toh orang seumuran kita memang sedang pada masanya. Pabila pun ada anak SMA yang rajin menyimak tulisan dengan “genre” seperti ini. Anggap saja sedang belajar munakahat ya dek :)
Lagi-lagi aku dihadapkan pada sudut pandang baru, adalah sebuah gejala yang secara tidak disadari merasuk dalam jiwa-jiwa para akademisi yang mencari pendamping hidup dan mati.
Hei …
Kini, almamater tidak hanya berguna bagi para pencari kerja yang melamar kesana kemari. Tapi melamar atau dilamar pun beberapa orang menelisik almamater.
Ada seorang laki-laki jebolan kampus terbaik se Indonesia raya mendamba pendamping seorang dokter. Jika kamu bukan anak FK, maka sejak awal kamu tidak akan masuk kriterianya.
Ada seorang perempuan lulusan kampus termegah seindonesia raya. Kita ini laki-laki dari kampus pinggiran, urung, berpikir hendak mendekati saja tidak berani.
Sejak kapan kita menanamkan dalam diri kita sendiri dengan standar-standar keduniawian untuk menilai seseorang. Apakah kamu malu jika kamu berijazah kampus terbaik sementara perempuanmu sekedar dari kampus entah dimana dan jurusan yang sama sekali tidak menarik minat anak SMA untuk mendaftarnya.
Apakah ketinggian sekolahmu membuatmu memasang kriteria tinggi pula (dlm hal sekolah formal) untuk pendamping hidupmu? Apakah sebenarnya yang kamu cari? Keturunan super briliant dengan kecerdasaan diatas rata-rata? Teman diskusi super cerdas setiap malam tentang berbagai permasalahan pekerjaan, negara, dan politik?
Apakah kamu melupakan salah satu ilmu kebaikan yang selalu didengungkan semasa kita kanak-kanak.
Nak, jadilah seperti padi, semakin berisi, ia semakin menunduk.
Adakah ketinggian almamatermu membuatmu enggan melihat kebawah? Apakah kamu akan menggugurkan segala kebaikan seseorang hanya karena dia lulusan D3 (misal)? Astaga.
Aku yakin, sekian banyak dari kita mengalami hal seperti ini saat ini. Merasa minder dengan seseorang yang dirasai diatas kita, berasal dari kampus yang sangat baik sementara kita entah apa.
Aku yakin, sekian banyak dari kita pun mengalami, kesombongan diri yang melihat bahwa kita ini lebih baik dari yang lain. Merasa orang lain tidak selevel dengan kita hanya karena masalah, sekolah formal. Mendamba teman bicara dengan kapasitas yang sama, merasa bahwa dengan derajat sekolah formal yang sama akan lebih nyambung bicaranya. Bicara apa dulu ?
Adakah kita berpikir jernih, menanggalkan segala atribut kesarjanaan. Kita adalah sesama manusia, laki-laki dan perempuan. Ada fitrah yang diciptakan diantara kita.
Aku pernah berdiskusi tentang ini kepada kakak kelasku yang baik, dia seorang perempuan dengan sekolah yang sangat cemerlang.
Laki-laki tidak perlu merasa rendah diri hanya karena derajat sekolah formal. Perempuan tetaplah perempuan.
Pun perempuan, tak perlu merasa dirinya terlalu tinggi hingga memasang standar yang sangat tinggi pula, kamu lulusan S2, maka pelamarmu haruslah S3, minimal S2 lah. Ada banyak kebijaksanaan laki-laki yang tidak terlihat dari sekedar titel sarjana.
Kita semua merasai, sadar atau tidak sadar.
Seorang perempuan di ujung sana mendamba laki-laki yang dikenalnya. Yang berada di kampus terbaik di negerinya. Sedang ia merasa sebagai butiran debu, merasa tidak masuk perhitungan sama sekali.

Ada seorang laki-laki diujung sana, mendamba seorang dokter jelita. Hendak maju merasa hina, hendak mundur perasaan tiada lupa. Apa yang harus diperbuat.
Percayalah, urusan seperti ini itu selalu akan rumit jika dipikirkan. Yang perlu kita lakukan adalah, percaya. Karena selama ini kita seringkali mengabaikan adanya campur tangan Tuhan. Merasa segala hal akan tercapai dengan usaha kita sendiri.
Ah tulisan ini rumit, aku tidak bisa menyelesaikannya dengan baik. Paling tidak, kalian memahami sesuatu dan merasai sesuatu. Bukankah kita selama ini seringkali seperti itu?
Bandung, 19 Mei 2013

Sabtu, 18 Mei 2013

Praktik Kerja Lapangan STAN @DPPKAD Pemda Kabupaten Magetan

Praktik Kerja Lapangan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
@ Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Magetan
11 Juni - 6 Juli 2012

Anggota Kelompok:
1. Aditya Hendriawan
2. Ika Dewi Puspitarini
3. Isma Wiyunda Renggasami
4. Septian Asdwiyantoro
5. Tio Andri Prasetyo




Jumat ceria...






Aktivitas para lelaki...

Hari terakhir...