Aku ingin bertemu
Namun waktu belum merestu
Akhirnya aku melewatkanmu
Sepertinya ku harus menunggu lagi
Hingga kesempatan datang lain kali
Dalam penantianku
Sanggupkah aku merindu?
Ataukah ku akan menyerah kalah?
Hingga akhirnya tak ada kaupun tak masalah?
...
...
Wahai bintang
Tetaplah bersinar terang
Sehingga kau bisa tetap jelas kupandang
Berharap cinta ini kan lama bertahan
Hingga suatu saat ada kesempatan
Kita bisa berhadapan
Dan aku bisa dengan bahagia mengatakan
"Akhirnya... Kita bisa bertemu"
-puisi untuk si pecinta puisi-
Ditulis dalam keadaan patah hati yang mendalam
Kenangan adalah usia kedua dari seorang manusia...
Kamis, 31 Oktober 2019
Rabu, 31 Juli 2019
Selamat Jalan, Semoga Berbahagia Dimanapun Berada
"Bahagia jika melihat orang lain bahagia"
Apakah seperti itu?
Bukankah sepertinya lebih banyak irinya daripada bahagia?
'Iri jika melihat orang lain bahagia', begitukah?
Bahkan ketika sudah pernah punya/mengalami sesuatu itu.
Ibaratnya sudah pernah punya benda x terlebih dulu, kemudian ada seseorang yang baru punya benda x, berapa persen perasaan ikut berbahagia untuk mereka?
Apakah malah lebih banyak semacam 'kok mereka bisa punya juga sih?'
Atau apakah turut bahagia itu hanya berlaku jika yang bahagia adalah orang-orang terdekat?
Bahagia jika ayah naik pangkat.
Bahagia jika adik ranking satu.
Bahagia saat suami naik gaji.
Bahagia jika anak pandai melakukan sesuatu.
Semacam itu misal.
Sementara ketika ayah orang lain naik pangkat, ketika adik orang lain ranking satu, ketika suami orang lain naik gaji, ketika anak orang lain pandai melakukan sesuatu, apakah turut berbahagia?
Bahkan ketika yang meraih sesuatu adalah orang-orang terdekat ring 2 (istilah macam apa ya ini?)
Mertua misal? Atau saudara ipar? Atau sepupu, om, tante? Atau sahabat dekat hampir soulmate?
Apakah bisa turut berbahagia?
Kenapa semuanya berupa pertanyaan?
Karena aku pun seringkali menanyakan, orang seperti apa aku ini? Apakah aku termasuk golongan orang-orang yang bisa 'bahagia jika melihat orang lain bahagia', atau lebih sering 'iri jika melihat orang lain bahagia'?
``````````````
Malah melantur kemana-mana.
Padahal hanya ingin bercerita bahwa terlepas dari aku lebih sering masuk golongan orang yang mana, hari ini aku bahagia melihat temanku berbahagia.
Hari ini kami melepas salah satu rekan kerja untuk pindah tugas. Hari ini hari terakhirnya, besok dia sudah bertugas di tempat baru.
Akhirnya dia bisa bekerja dekat dengan anaknya, sebagaimana yang ia inginkan dan ia perjuangkan setahun ini.
We never know inside someone's heart memaaang. Entah dia memang merasa bahagia dengan kepindahan ini atau tidak, tapi karena ini adalah sesuatu yang dia usahakan dan akhirnya dia dapatkan, aku mengasumsikan bahwa dengan ini dia bahagia.
And I feel sooooo happy for him.
(And sad in the same time. huhuhu... mewek)
Kehilangan satu partner kerja yang baik, sangat.
Sedihnya sedih mau pisah tapi sedih terharu juga sih.
Ku tak terlalu dekat dengannya memang. Tapi aku tahu garis besar ceritanya (atau mungkin sok tahu). Dan aku mendoakan yang terbaik untuknya.
(Di grup kantor jadi silent reader. Malah curhatnya disini)
Hihi...
Apakah seperti itu?
Bukankah sepertinya lebih banyak irinya daripada bahagia?
'Iri jika melihat orang lain bahagia', begitukah?
Bahkan ketika sudah pernah punya/mengalami sesuatu itu.
Ibaratnya sudah pernah punya benda x terlebih dulu, kemudian ada seseorang yang baru punya benda x, berapa persen perasaan ikut berbahagia untuk mereka?
Apakah malah lebih banyak semacam 'kok mereka bisa punya juga sih?'
Atau apakah turut bahagia itu hanya berlaku jika yang bahagia adalah orang-orang terdekat?
Bahagia jika ayah naik pangkat.
Bahagia jika adik ranking satu.
Bahagia saat suami naik gaji.
Bahagia jika anak pandai melakukan sesuatu.
Semacam itu misal.
Sementara ketika ayah orang lain naik pangkat, ketika adik orang lain ranking satu, ketika suami orang lain naik gaji, ketika anak orang lain pandai melakukan sesuatu, apakah turut berbahagia?
Bahkan ketika yang meraih sesuatu adalah orang-orang terdekat ring 2 (istilah macam apa ya ini?)
Mertua misal? Atau saudara ipar? Atau sepupu, om, tante? Atau sahabat dekat hampir soulmate?
Apakah bisa turut berbahagia?
Kenapa semuanya berupa pertanyaan?
Karena aku pun seringkali menanyakan, orang seperti apa aku ini? Apakah aku termasuk golongan orang-orang yang bisa 'bahagia jika melihat orang lain bahagia', atau lebih sering 'iri jika melihat orang lain bahagia'?
``````````````
Malah melantur kemana-mana.
Padahal hanya ingin bercerita bahwa terlepas dari aku lebih sering masuk golongan orang yang mana, hari ini aku bahagia melihat temanku berbahagia.
Hari ini kami melepas salah satu rekan kerja untuk pindah tugas. Hari ini hari terakhirnya, besok dia sudah bertugas di tempat baru.
Akhirnya dia bisa bekerja dekat dengan anaknya, sebagaimana yang ia inginkan dan ia perjuangkan setahun ini.
We never know inside someone's heart memaaang. Entah dia memang merasa bahagia dengan kepindahan ini atau tidak, tapi karena ini adalah sesuatu yang dia usahakan dan akhirnya dia dapatkan, aku mengasumsikan bahwa dengan ini dia bahagia.
And I feel sooooo happy for him.
(And sad in the same time. huhuhu... mewek)
Kehilangan satu partner kerja yang baik, sangat.
Sedihnya sedih mau pisah tapi sedih terharu juga sih.
Ku tak terlalu dekat dengannya memang. Tapi aku tahu garis besar ceritanya (atau mungkin sok tahu). Dan aku mendoakan yang terbaik untuknya.
(Di grup kantor jadi silent reader. Malah curhatnya disini)
Hihi...
Selasa, 16 Juli 2019
Hujan Selamat Datang
Setapak ini tak ku kenal
Aku datang sebagai orang asing
Bertanya-tanya akan seperti apa perjalananku disana
Jika kau adalah gerimis
Maka kau adalah rintik air pertama
Yang jatuh di tengah teriknya hari itu
Di perjalananku melewati gersangnya padang ilalang
Ku berlari, tak sempat berteduh
Kubiarkan rambut basah sembari mengeluh
Namun ternyata engkau tak menderas
Hanya turun titik setitik
Membawa mendung sejuk
Ku mulai menikmatinya
Tak lagi berlari, ku mulai memelan
Berharap kau menemani
Hingga sampai ujung nanti
Namun sayang
Ternyata aku datang di akhir musim
Itu adalah hadirmu yang terakhir
Hanya menemaniku setengah jalan
Setelahnya kau menghilang
Kau tak pernah lagi datang
Hingga aku menyelesaikan perjalanan ini
Dan aku pergi
Jika kau adalah hujan
Musim depan kau pasti akan datang
Namun kau bukan
Sekali kau menghilang
Semua sirna tinggal kenangan
Di tempat ini aku merindu
Aku bersedih
Aku memanggilmu lirih
Ku mengingatmu sebagai rintik air pertama
Yang menetes satu satu
Dan membuatku mendongak menatap langit
Untuk kemudian menyadari
Kau datang... hujan...
Dengan wajah yang basah
Ku tak pernah lagi berlari
Karena hujan adalah saat terbaik untuk mengingatmu
Baunya mendatangkan kenangan tentangmu
Dan tetesnya menutupi air mata di wajahku
*Iseng berpuisi. Terinspirasi dari maraton drama korea beberapa hari ini*
Aku datang sebagai orang asing
Bertanya-tanya akan seperti apa perjalananku disana
Jika kau adalah gerimis
Maka kau adalah rintik air pertama
Yang jatuh di tengah teriknya hari itu
Di perjalananku melewati gersangnya padang ilalang
Ku berlari, tak sempat berteduh
Kubiarkan rambut basah sembari mengeluh
Namun ternyata engkau tak menderas
Hanya turun titik setitik
Membawa mendung sejuk
Ku mulai menikmatinya
Tak lagi berlari, ku mulai memelan
Berharap kau menemani
Hingga sampai ujung nanti
Namun sayang
Ternyata aku datang di akhir musim
Itu adalah hadirmu yang terakhir
Hanya menemaniku setengah jalan
Setelahnya kau menghilang
Kau tak pernah lagi datang
Hingga aku menyelesaikan perjalanan ini
Dan aku pergi
Jika kau adalah hujan
Musim depan kau pasti akan datang
Namun kau bukan
Sekali kau menghilang
Semua sirna tinggal kenangan
Di tempat ini aku merindu
Aku bersedih
Aku memanggilmu lirih
Ku mengingatmu sebagai rintik air pertama
Yang menetes satu satu
Dan membuatku mendongak menatap langit
Untuk kemudian menyadari
Kau datang... hujan...
Dengan wajah yang basah
Ku tak pernah lagi berlari
Karena hujan adalah saat terbaik untuk mengingatmu
Baunya mendatangkan kenangan tentangmu
Dan tetesnya menutupi air mata di wajahku
*Iseng berpuisi. Terinspirasi dari maraton drama korea beberapa hari ini*
Kamis, 04 Juli 2019
Hari Terakhir Bersama Ibu
6 Januari 2017 pagi
Aku masih mengingat suasana pagi di Hari Jumat, dimana aku sangat bersemangat menyambut hari terakhir kerja jelang weekend. Sudah mandi wangi dan siap berganti baju kerja. Tiba-tiba Bapak menelepon dan mengabarkan bahwa ibu masuk rumah sakit.
Aku masih mengingat betapa panik dan buru-burunya aku meraih baju sekenanya, memesan taksi online ke Bandara Soetta padahal belum beli tiket pesawat sambil mengepak barang seadanya.
Aku masih mengingat bagaimana aku memohon pada bapak driver yang sudah jalan hampir satu kilometer menuju soetta untuk ganti tujuan ke Bandara Halim karena ternyata pesawat paling pagi ada disana.
Aku masih mengingat penantian di bandara yang terasa begitu lama sambil mulut tak henti berdoa agar ibu baik-baik saja tapi pikiran yang juga terus dihantui ketakutan jika ibu kenapa kenapa.
Aku masih ingat buru-burunya aku mengeluarkan uang taksi tak peduli harganya entah kemahalan atau tidak. Yang penting aku bisa segera meluncur dari Bandara Solo ke rumah sakit ibu di Madiun.
Aku masih ingat diriku yang memanggul tas punggung hitam kebingungan mencari ruangan ibu sampai kemudian bertemu tetangga-tetangga yang datang hendak menjenguk, kemudian kami bersama-sama menemukan ruangan ibu.
Aku masih ingat penampakan ibu yang sudah tak sadarkan diri dengan berbagai alat pemantau kondisi tubuh saat pertama kali aku melihatnya di ruang perawatan.
Aku masih ingat bagaimana aku menyeka badan ibu dan memakaikan pakaian rumah sakit.
Aku masih ingat bagaimana dokter menjelaskan kondisi ibu, bagaimana sepupuku yang perawat menanyakan 'masihkah ada harapan?' dan kemudian mendapat jawaban: 'sulit'
Aku masih ingat bagaimana aku sendirian duduk di samping ibu seorang diri (pasien hanya boleh didampingi satu orang) sambil mengucapkan segala macam doa dan harapan.
Aku masih ingat bagaimana aku hampir tiap menit mengamati gerak naik turun dada ibu, memastikan bahwa masih ada nafas disana.
Aku masih ingat bagaimana tiba-tiba monitor di samping ibu berbunyi dan dengan paniknya aku memanggil dokter dan bertanya terbata 'ibu kenapa?'
Aku masih ingat bagaimana dokter melakukan tindakan penyelamatan, dan aku berteriak memanggil tante di luar ruangan.
6 Januari 2017 Ba'da Ashar
Aku masih ingat...
Aku masih ingat sampai akhirnya ibu dinyatakan meninggal di depan mataku, badan ibu ditutup kain, aku menangis sambil memeluk adikku yang baru kelas 3 SD, mengabarkan ke calon suami (yang 10 bulan lagi harusnya bisa ibu saksikan menikah denganku) kalau ibu meninggal.
Aku masih ingat bagaimana sesampai di rumah aku disambut dengan wajah-wajah sedih, tak percaya, dan turut berduka dari para tetangga yang sudah mulai menyiapkan pemakaman ibu.
Aku masih ingat bagaimana saat adikku yang berkuliah di luar kota datang dan memelukku dalam tangis.
Aku masih ingat bagaimana orang-orang melarangku meneteskan air mata saat melihat ibu dimandikan, padahal kala itu rasanya sudah bukan ingin menetes lagi tapi mengalir.
Aku masih ingat langkah terakhirku mengantarkan ibu ke pemakanan.
Aku masih ingat...
Aku masih ingat hari-hari setelahnya dimana aku jatuh sakit, hari-hari berikutnya dimana pikiran ini penuh dengan pertanyaan 'nanti gimana?' dan hari-hari yang harus kami lewati susah payah karena begitu besar perubahan yang terjadi di rumah sepeninggal ibu.
Aku masih ingat...
Aku masih ingat semuanya.
Namun aku tak ingin mengingatnya.
Tiap kali ingatan itu muncul sekelebat, akan kugelengkan kepalaku dan menyibukkan diri dengan hal lain.
Bukan aku tak ingat.
Aku hanya tak ingin mengingat.
Karena gambarannya masih terasa sangat jelas.
Sejelas sakit hati yang masih terasa sampai hari ini.
Sejelas air mata yang masih meleleh saat aku menuliskan hal ini.
Aku masih mengingat suasana pagi di Hari Jumat, dimana aku sangat bersemangat menyambut hari terakhir kerja jelang weekend. Sudah mandi wangi dan siap berganti baju kerja. Tiba-tiba Bapak menelepon dan mengabarkan bahwa ibu masuk rumah sakit.
Aku masih mengingat betapa panik dan buru-burunya aku meraih baju sekenanya, memesan taksi online ke Bandara Soetta padahal belum beli tiket pesawat sambil mengepak barang seadanya.
Aku masih mengingat bagaimana aku memohon pada bapak driver yang sudah jalan hampir satu kilometer menuju soetta untuk ganti tujuan ke Bandara Halim karena ternyata pesawat paling pagi ada disana.
Aku masih mengingat penantian di bandara yang terasa begitu lama sambil mulut tak henti berdoa agar ibu baik-baik saja tapi pikiran yang juga terus dihantui ketakutan jika ibu kenapa kenapa.
Aku masih ingat buru-burunya aku mengeluarkan uang taksi tak peduli harganya entah kemahalan atau tidak. Yang penting aku bisa segera meluncur dari Bandara Solo ke rumah sakit ibu di Madiun.
Aku masih ingat diriku yang memanggul tas punggung hitam kebingungan mencari ruangan ibu sampai kemudian bertemu tetangga-tetangga yang datang hendak menjenguk, kemudian kami bersama-sama menemukan ruangan ibu.
Aku masih ingat penampakan ibu yang sudah tak sadarkan diri dengan berbagai alat pemantau kondisi tubuh saat pertama kali aku melihatnya di ruang perawatan.
Aku masih ingat bagaimana aku menyeka badan ibu dan memakaikan pakaian rumah sakit.
Aku masih ingat bagaimana dokter menjelaskan kondisi ibu, bagaimana sepupuku yang perawat menanyakan 'masihkah ada harapan?' dan kemudian mendapat jawaban: 'sulit'
Aku masih ingat bagaimana aku sendirian duduk di samping ibu seorang diri (pasien hanya boleh didampingi satu orang) sambil mengucapkan segala macam doa dan harapan.
Aku masih ingat bagaimana aku hampir tiap menit mengamati gerak naik turun dada ibu, memastikan bahwa masih ada nafas disana.
Aku masih ingat bagaimana tiba-tiba monitor di samping ibu berbunyi dan dengan paniknya aku memanggil dokter dan bertanya terbata 'ibu kenapa?'
Aku masih ingat bagaimana dokter melakukan tindakan penyelamatan, dan aku berteriak memanggil tante di luar ruangan.
6 Januari 2017 Ba'da Ashar
Aku masih ingat...
Aku masih ingat sampai akhirnya ibu dinyatakan meninggal di depan mataku, badan ibu ditutup kain, aku menangis sambil memeluk adikku yang baru kelas 3 SD, mengabarkan ke calon suami (yang 10 bulan lagi harusnya bisa ibu saksikan menikah denganku) kalau ibu meninggal.
Aku masih ingat bagaimana sesampai di rumah aku disambut dengan wajah-wajah sedih, tak percaya, dan turut berduka dari para tetangga yang sudah mulai menyiapkan pemakaman ibu.
Aku masih ingat bagaimana saat adikku yang berkuliah di luar kota datang dan memelukku dalam tangis.
Aku masih ingat bagaimana orang-orang melarangku meneteskan air mata saat melihat ibu dimandikan, padahal kala itu rasanya sudah bukan ingin menetes lagi tapi mengalir.
Aku masih ingat langkah terakhirku mengantarkan ibu ke pemakanan.
Aku masih ingat...
Aku masih ingat hari-hari setelahnya dimana aku jatuh sakit, hari-hari berikutnya dimana pikiran ini penuh dengan pertanyaan 'nanti gimana?' dan hari-hari yang harus kami lewati susah payah karena begitu besar perubahan yang terjadi di rumah sepeninggal ibu.
Aku masih ingat...
Aku masih ingat semuanya.
Namun aku tak ingin mengingatnya.
Tiap kali ingatan itu muncul sekelebat, akan kugelengkan kepalaku dan menyibukkan diri dengan hal lain.
Bukan aku tak ingat.
Aku hanya tak ingin mengingat.
Karena gambarannya masih terasa sangat jelas.
Sejelas sakit hati yang masih terasa sampai hari ini.
Sejelas air mata yang masih meleleh saat aku menuliskan hal ini.
Kamis, 06 Juli 2017
Hwarang: The Poet Warrior Youth
*Mengawali postingan pertama setelah long time hiatus dengan review drakor*
Menentukan drama selanjutnya yang akan ditonton selalu melewati proses seleksi panjang. Browsing di internet untuk baca review drama-drama terbaru, ngubek-ngubek forum diskusi untuk tau rekomendasi drama dari penggila drakor, dan menyelami langsung trailer atau potongan-potongan dari drama yang direkomendasikan (termasuk baca ratusan komen di Youtube) adalah proses wajib sebelum menentukan pilihan.
Dari sekian banyak drama kolosal, drama Hwarang ini sebenarnya berada di urutan sekian belas dari drama kolosal yang pengen kutonton. Jauh di bawah Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo dan
Love in the Moonlight yang kata orang patut masuk list teratas drama kolosal layak tonton.
Tapi namanya jodoh ya buu, ngga akan kemana 😆😆😆😆
Melihat kuota internet khusus buat nonton video masih puluhan GB, maka untuk pertama kalinyalah aye mengenal apa itu yang namanya Viu. Iseng-iseng nyoba aja. Dan pilihan iseng nyoba itu jatuh pada Hwarang yang saat itu muncul di halaman depan. Niat hati cuma pengen intip satu episode aja (ecek-eceknya anak gaul gitu udah pernah maen Viu).
Aye terjun dengan ekspektasi 0 (nol). Tapi di episode pertama ternyata langsung jatuh hati. 💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓
Luluh lantak setelah kenal sama Si Raja Tanpa Wajah yang diperankan sama Park Hyung Sik. Park Hyung Sik itu siapa juga aku ngga kenal sama sekali tadinya, padahal udah pernah liat dia di The Heirs. Tapi kehadirannya saat itu tak menarik sama sekali 😂😂
*Drama ini tentang apa, bisa baca sendiri yes di Wikipedia*
Second Lead Syndrome hit me super duper hard 😭😭😭😭😭
Episode awal masih kerasa bahagia karena tanda-tanda patah hati belum muncul terlalu jelas (walaupun emang sebenernya udah terprediksi sih ya). Tapi makin ke belakang makin perih rasanya.
Mewek sampai air mata bukan lagi netes tapi (literally) ngalir 😭😭😭😭😭
Dan akhirnya, pasca menamatkan drama itu (dengan susah payah), pesona Sam Maek Jong/Ji Dwi/ King Jinheung masih membekas teramat sangat.
Ngga bosen liat potongan video2 dia di drama itu, memandangi muka gantengnya dan dengerin suaranya yang djuara 💘💘💘
Dia ada peran di drama lain yang tanggapan pemirsanya ngga kalah bagus. Drama terbarunya Strong Woman Do Bong Soon katanya unyu2 baper gitu. Tapi mau nonton kok ragu ya.
1. Belum pengen move on dari penampilan Sam Maek Jong dengan rambut panjang dan baju jadulnya.
2. Belum pengen move on dari sikap dan sifat Sam Maek Jong yang cool, unyu, rapuh-rapuh minta dipeluk 😚😚😚😚, tapi keren dan bijaksana itu.
Menentukan drama selanjutnya yang akan ditonton selalu melewati proses seleksi panjang. Browsing di internet untuk baca review drama-drama terbaru, ngubek-ngubek forum diskusi untuk tau rekomendasi drama dari penggila drakor, dan menyelami langsung trailer atau potongan-potongan dari drama yang direkomendasikan (termasuk baca ratusan komen di Youtube) adalah proses wajib sebelum menentukan pilihan.
Dari sekian banyak drama kolosal, drama Hwarang ini sebenarnya berada di urutan sekian belas dari drama kolosal yang pengen kutonton. Jauh di bawah Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo dan
Love in the Moonlight yang kata orang patut masuk list teratas drama kolosal layak tonton.
Tapi namanya jodoh ya buu, ngga akan kemana 😆😆😆😆
Melihat kuota internet khusus buat nonton video masih puluhan GB, maka untuk pertama kalinyalah aye mengenal apa itu yang namanya Viu. Iseng-iseng nyoba aja. Dan pilihan iseng nyoba itu jatuh pada Hwarang yang saat itu muncul di halaman depan. Niat hati cuma pengen intip satu episode aja (ecek-eceknya anak gaul gitu udah pernah maen Viu).
Aye terjun dengan ekspektasi 0 (nol). Tapi di episode pertama ternyata langsung jatuh hati. 💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓
Luluh lantak setelah kenal sama Si Raja Tanpa Wajah yang diperankan sama Park Hyung Sik. Park Hyung Sik itu siapa juga aku ngga kenal sama sekali tadinya, padahal udah pernah liat dia di The Heirs. Tapi kehadirannya saat itu tak menarik sama sekali 😂😂
*Drama ini tentang apa, bisa baca sendiri yes di Wikipedia*
Second Lead Syndrome hit me super duper hard 😭😭😭😭😭
Episode awal masih kerasa bahagia karena tanda-tanda patah hati belum muncul terlalu jelas (walaupun emang sebenernya udah terprediksi sih ya). Tapi makin ke belakang makin perih rasanya.
Mewek sampai air mata bukan lagi netes tapi (literally) ngalir 😭😭😭😭😭
Dan akhirnya, pasca menamatkan drama itu (dengan susah payah), pesona Sam Maek Jong/Ji Dwi/ King Jinheung masih membekas teramat sangat.
Ngga bosen liat potongan video2 dia di drama itu, memandangi muka gantengnya dan dengerin suaranya yang djuara 💘💘💘
Dia ada peran di drama lain yang tanggapan pemirsanya ngga kalah bagus. Drama terbarunya Strong Woman Do Bong Soon katanya unyu2 baper gitu. Tapi mau nonton kok ragu ya.
1. Belum pengen move on dari penampilan Sam Maek Jong dengan rambut panjang dan baju jadulnya.
2. Belum pengen move on dari sikap dan sifat Sam Maek Jong yang cool, unyu, rapuh-rapuh minta dipeluk 😚😚😚😚, tapi keren dan bijaksana itu.
![]() |
| Wallpaper hp aye sekarang 😝😝😝😝 |
Senin, 28 Desember 2015
Kesempurnaan Cinta
Kau dan aku tercipta oleh waktuHanya untuk saling mencintaiMungkin kita ditakdirkan bersamaRajut kasih jalin cinta
Berada dipelukanmuMengajarkanku apa artinya kenyamananKesempurnaan cinta
Berdua bersamamuMengajarkanku apa artinya kenyamananKesempurnaan cinta
Tak pernah terbayangkan olehkuBila kau tinggalkan akuHancurlah hatiku musnah harapanku sayang
Berada dipelukanmumengajarkanku apa artinya kenyamananKesempurnaan cinta
Berdua bersamamumengajarkanku apa artinya kenyamananKesempurnaan cinta
-Kesempurnaan Cinta-By Rizky Febian*Anaknya Sule :D
Lagu yang belakangan ini sangat ku sukai. Tak bosan tiap hari diputar. Walaupun komen awalku saat mendengarkannya adalah "sesat amat nih, masa kau dan aku tercipta oleh waktu? tercipta oleh Allah SWT" :D
Listening to this song makes me blushing unreasonably (#'.'#)
Berada dipelukanmuMengajarkanku apa artinya kenyamananKesempurnaan cinta
Berdua bersamamuMengajarkanku apa artinya kenyamananKesempurnaan cinta
Tak pernah terbayangkan olehkuBila kau tinggalkan akuHancurlah hatiku musnah harapanku sayang
Berada dipelukanmumengajarkanku apa artinya kenyamananKesempurnaan cinta
Berdua bersamamumengajarkanku apa artinya kenyamananKesempurnaan cinta
-Kesempurnaan Cinta-By Rizky Febian*Anaknya Sule :D
Lagu yang belakangan ini sangat ku sukai. Tak bosan tiap hari diputar. Walaupun komen awalku saat mendengarkannya adalah "sesat amat nih, masa kau dan aku tercipta oleh waktu? tercipta oleh Allah SWT" :D
Listening to this song makes me blushing unreasonably (#'.'#)
Rindu
![]() |
| Image Source |
Aku merindu.
Nafas angin musim dingin yang kerap kali dilengkapi ketuk hujan terasa makin mematrikan kata rindu.
Kilat petir yang menyilaukan membuat rinduku makin benderang.
Hilir mudik kenangan dan kelebat khayalan masa depan jelas memampangkan wajah yang kurindukan.
Menghitung waktu untuk bertemu, memetik rindu.
Terkadang aku jatuh terlalu dalam pada rindu.
Meringkuk sedih meratapinya.
Seolah tlah bertahun sudah kami tak bertemu.
Tak sadar telah berlebihan, aku membiarkan air mata bersisihan dengan rintik hujan.
Rindu...
Bersyukurnya diriku, yang hanya merindu untuk sementara.
Tak terbayang rasa orang-orang itu.
Dia yang merindukan sesuatu yang tak kan mungkin bisa dilihat lagi.
Merindu seseorang untuk waktu yang tak tentu.
Mungkin segera lenyap, mungkin selamanya.
Jumat, 30 Oktober 2015
Siapa yang Lebih Pantas
"Perbandingan tak membawa kita kemana-mana" tak sepenuhnya benar. Terkadang perbandingan membawa kedamaian.
Membandingkan kehidupanmu dengan kehidupannya. Siapa yang telah lebih banyak kehilangan? Siapa yang telah lebih besar mengalami kesedihan? Kau tau pasti jawabannya.
Lalu kenapa harus bersedih?
Kau tau pasti, dia yang lebih pantas mendapat kebahagiaan itu terlebih dulu.
Membandingkan kehidupanmu dengan kehidupannya. Siapa yang telah lebih banyak kehilangan? Siapa yang telah lebih besar mengalami kesedihan? Kau tau pasti jawabannya.
Lalu kenapa harus bersedih?
Kau tau pasti, dia yang lebih pantas mendapat kebahagiaan itu terlebih dulu.
Jumat, 23 Oktober 2015
Ingin Sepekan Tanpanya
Kepalanya dipukul berulang kali dengan sebilah bambu.
Jatuh, berdarah, sakit.
Tapi, ia mencoba terus bangit, lagi dan lagi.
Namun, pukulan terakhir ini seperti membuatnya terkapar.
Enggan untuk bangkit, takut dipukul lagi.
Ia ingin pura-pura mati.
Mungkinkah usahanya tak terlihat?
Apakah usaha setengah matinya untuk mengajak bicara tak terasa?
Apakah usahanya untuk membuat semua seperti baik-baik saja walaupun hanya ditanggapi dengan terus berwajah datar dan jawaban pendek pun ketus juga tak terasa?
Ia sekuat tenaga menahan hasrat untuk berlari pulang demi harapan bahwa senyum itu akan kembali sebentar lagi.
Apakah kalimat hukuman "Aku tidak akan minta tolong padamu lagi" itu tak cukup?
Baginya itu cukup mengundang jerit ketakutan.
Tapi, ia menahan tangisnya. Demi membuat semuanya setidaknya tidak jadi lebih buruk.
Apa yang ia dapat hari itu hanyalah rasa takut, kesepian, diabaikan.
Ia tetap berusaha mengulur waktu bersama, walaupun sungguh sebenarnya ia ingin segera lari, sembunyi, menangis.
Hingga akhirnya kepalanya yang sudah pening itu kembali dipukul dengan kalimat-kalimat prasangka. Ia dibilang meremehkan. Ia dikata mementingkan uang.
Semua ini hanya karena pertanyaan kecil yang mungkin terucap dengan kalimat yang salah. Mungkin otak bodohnya memang membuahkan kata-kata yang menyakitkan. Sungguh ia merasa bersalah.
Sungguh ia takut. Apakah nanti kepalanya akan terus terasa dipukul?
Ia terkapar
Ia sakit
Ia takut
Ia hanya ingin pura-pura mati
Jatuh, berdarah, sakit.
Tapi, ia mencoba terus bangit, lagi dan lagi.
Namun, pukulan terakhir ini seperti membuatnya terkapar.
Enggan untuk bangkit, takut dipukul lagi.
Ia ingin pura-pura mati.
Mungkinkah usahanya tak terlihat?
Apakah usaha setengah matinya untuk mengajak bicara tak terasa?
Apakah usahanya untuk membuat semua seperti baik-baik saja walaupun hanya ditanggapi dengan terus berwajah datar dan jawaban pendek pun ketus juga tak terasa?
Ia sekuat tenaga menahan hasrat untuk berlari pulang demi harapan bahwa senyum itu akan kembali sebentar lagi.
Apakah kalimat hukuman "Aku tidak akan minta tolong padamu lagi" itu tak cukup?
Baginya itu cukup mengundang jerit ketakutan.
Tapi, ia menahan tangisnya. Demi membuat semuanya setidaknya tidak jadi lebih buruk.
Apa yang ia dapat hari itu hanyalah rasa takut, kesepian, diabaikan.
Ia tetap berusaha mengulur waktu bersama, walaupun sungguh sebenarnya ia ingin segera lari, sembunyi, menangis.
Hingga akhirnya kepalanya yang sudah pening itu kembali dipukul dengan kalimat-kalimat prasangka. Ia dibilang meremehkan. Ia dikata mementingkan uang.
Semua ini hanya karena pertanyaan kecil yang mungkin terucap dengan kalimat yang salah. Mungkin otak bodohnya memang membuahkan kata-kata yang menyakitkan. Sungguh ia merasa bersalah.
Sungguh ia takut. Apakah nanti kepalanya akan terus terasa dipukul?
Ia terkapar
Ia sakit
Ia takut
Ia hanya ingin pura-pura mati
Kamis, 22 Oktober 2015
Life is not just about love
Ketika melihat seorang gadis sedang cemberut, murung, bermuram durja, lesu, tak banyak bicara, dan banyak melamun, kira-kira apa yang akan orang tanyakan padanya?
Ada beberapa orang yang akan langsung menginterogasi "Kenapa? Pacarmu nakal ya? Diapain kamu?"
Belum lagi kalimat lanjutannya "Udah, putusin aja."
Yang akan hanya dijawab dengan cengiran kecut.
Sepertinya otak perempuan yang sedang dimabuk asmarapun bukan hanya berisi tentang kekasihnya. Life is not just about love, Guys!
Kenapa mereka tak bertanya "Kenapa? Ada apa dengan ayahmu? Ada apa dengan ibumu? Ada apa dengan adikmu?" Atau "Ada masalah sama temen kosan?"
Pada akhirnya, tak akan ada yang tau tentang masalah sesungguhnya kan.
Karena kau bukan tipe orang yang gampang bercerita tanpa dipancing sekuat tenaga.
Apalagi dengan 'umpan' yang menjengkelkan macam itu. Mood bercerita malah akan tenggelam sedalam-dalamnya bumi.
Kamis, 11 Juni 2015
Jelang 1 Agustus 2015
"Yaudah lah ya. Kita gini aja. Ngga nonton bioskop kayak orang lain. Ngga nge-mall. Kita gini aja (nonton konser)"
-tsuza-
Milih VIP...
Am I crazy?
Minggu, 31 Mei 2015
Kamis, 21 Mei 2015
![]() |
| image source: martinweigel.files.wordpress.com |
Tak banyak orang yang tau tentang cerita ini. Seseorang di seberang sana pernah mengisahkannya. Cerita yang diawali dengan sebuah tanya...
Tentang sebuah kerang laut ajaib. Para tetua mengatakan benda itu sebagai keajaiban yang hanya akan ditemui oleh orang-orang yang putus asa. Karena cinta. Merebak sebagai sebuah legenda. Yang katanya nyata tapi sulit untuk dipercaya. Berada di palung terdalam lautan Hindia.
Puluhan orang mencoba untuk membuktikannya. Datang menghampirinya membawa rasa putus asa. Berharap menemukan benda ajaib yang bisa mengembalikan waktu. Mengulang kembali kehidupan demi menghindari peristiwa yang mereka harap tak pernah terjadi. Tapi, tak seorangpun menemukannya, mereka mati, tak pernah pulang. Tenggelam dalam pencarian. Dan orang-orang pun mulai bertanya, apakah kerang ajaib itu hanyalah sebuah bualan yang sesungguhnya hanya merujuk pada kematian. Kematian yang dapat menghapuskan segala putus asa memang.
Dan legendapun berakhir sebatas cerita. Siapa pula yang menciptakan cerita macam itu tanpa disertai bukti. Bulan berlalu, tahun berganti. Belasan dasawarsa terlewati. Entah di generasi mana cerita itu terhenti hingga tak ada yang mengingatnya lagi.
***
Hatinya putus asa. Isak diamnya miris menahan lara. Jikalau cinta seperti ini, berharap ia lebih baik tak pernah berjumpa. Tapi, tak pernah itu ia wujudkan dalam kata-kata, apalagi tindakan nyata. Ia simpan dalam-dalam dalam hatinya sendiri. Membiarkannya menumpuk berharap akan surut sendiri suatu hari. Terlalu cinta rasanya. Tak tega pada hatinya sendiri. Tak sanggup bercerai dari satu-satunya gadis yang mengisi batinnya selama ini.
Entah apa yang mendorongnya, kakinya tiba-tiba terseret mendekati lidah ombak. Seolah tanpa sadar ia menyambut dinginnya air malam. Pelan, tapi pasti. Langkah teratur sejejak demi sejejak. Semakin tenggelam dalam gelapnya lautan. Seolah ada yang menyambutnya, bibirnya tersungging perlahan, entah itu siapa. Seakan menyambut damai beberapa jejak lagi di depannya.
Dan langkah terakhirnya tak menjejak. Ia tak menemukan pijakan. Langkahnya bablas. Menembus jauh ke bawah. Tenggelam... Dalam keputusasaan. Cinta yang menenggelamkan. Tanpa disadari.
***
Tangannya menggenggam. Hendak menjerit ia melihat wujud putih menyilaukan dengan suara menggema dari baliknya.
"Pejamkan matamu, balikkan badanmu, bayangkan wajahnya, dan katakan kau tak pernah bertemu dengannya."
Meronta sang lelaki. Seperti mimpi, tangannya memanas menggenggam benda keras dan sedikit kasar. Semakin panas, seolah membakar. Membuatnya menjerit-jerit ketakutan. Semakin menjerit, semakin tak tertahankan rasa terbakarnya. Jeritannya memilu, hingga akhirnya....
Ia terbangun, tergeletak lemas di hamparan pasir nan hangat. Keringatnya membanjir. Terik surya menyambut kerlip matanya yang baru terbuka. Ternyata semalaman dia ada di dasar sana. Ajaib, dia hidup.
Reflek ia kibaskan telapak tangannya, takut semakin terbakar. Terengah-engah ia menatap benda yang terlempar di dekatnya. Ia terdiam. Mimpi itu nyata. Sosok bercahaya itu benar-benar ada. Lelaki itu mendapatkannya.... Kerang ajaib itu benar-benar ada.
Takut-takut ia membawanya menyusur kembali kampung halamannya. Berdiri termangu di persimpangan jalan itu, tempat pertama kali ia bertemu dengan kekasihnya. Takut rasanya, membayangkan jika setelah ini ia tak lagi mengenalnya. Berimajinasi bahwa gadis itu tak pernah ada. Belum rela. Berat sekali rasanya. Sayang dan sakit bagai dua mata timbangan yang sama rata. Tapi dia menegarkan diri. Perlahan dan berani. Ia lakukan persis seperti apa yang dititahkan dalam mimpi.
Reflek ia kibaskan telapak tangannya, takut semakin terbakar. Terengah-engah ia menatap benda yang terlempar di dekatnya. Ia terdiam. Mimpi itu nyata. Sosok bercahaya itu benar-benar ada. Lelaki itu mendapatkannya.... Kerang ajaib itu benar-benar ada.
Takut-takut ia membawanya menyusur kembali kampung halamannya. Berdiri termangu di persimpangan jalan itu, tempat pertama kali ia bertemu dengan kekasihnya. Takut rasanya, membayangkan jika setelah ini ia tak lagi mengenalnya. Berimajinasi bahwa gadis itu tak pernah ada. Belum rela. Berat sekali rasanya. Sayang dan sakit bagai dua mata timbangan yang sama rata. Tapi dia menegarkan diri. Perlahan dan berani. Ia lakukan persis seperti apa yang dititahkan dalam mimpi.
Ia memejamkan matanya, membalikkan badannya, membayangkan wajah gadisnya, dan mengatakan dia tak pernah bertemu dengannya.
Basuhan air mata mengiringi wajahnya yang memudar. Seolah tersedot oleh waktu, tubuhnya perlahan menghilang. Terseok-seok terseret arus kumparan entah apa. Dimensi lain sepertinya. Melemparkannya kesana kemari hingga mual. Berkelebat di sisinya gambar-gambar kenangannya bersama orang yang ingin ia lupakan. Tanpa sadar tangannya menggapai tampakan gambar dirinya yang sedang tersenyum, tapi sekilas berganti dengan wajah gadisnya yang berurai tangis. Semakin mual ia dibuatnya, semakin pusing jika ia membuka mata. Ia putuskan untuk memejam. Dan kemudian....
Basuhan air mata mengiringi wajahnya yang memudar. Seolah tersedot oleh waktu, tubuhnya perlahan menghilang. Terseok-seok terseret arus kumparan entah apa. Dimensi lain sepertinya. Melemparkannya kesana kemari hingga mual. Berkelebat di sisinya gambar-gambar kenangannya bersama orang yang ingin ia lupakan. Tanpa sadar tangannya menggapai tampakan gambar dirinya yang sedang tersenyum, tapi sekilas berganti dengan wajah gadisnya yang berurai tangis. Semakin mual ia dibuatnya, semakin pusing jika ia membuka mata. Ia putuskan untuk memejam. Dan kemudian....
***
Legenda itu benar-benar ada. Satu cerita membuktikan wujudnya. Seorang lelaki yang putus asa karena cinta, kembali memutar waktu dan merubah semua nasibnya. Kakinya melangkah ke arah yang berbeda. Membuatnya sekalipun tak pernah berjumpa dengan orang yang pernah dicintainya. Melewati sejejak demi sejejak usianya dengan segala keceriaannya. Prestasinya gemilang menuai pujian. Tak perlu kau hitung berapa gadis yang mengidamkannya. Silih berganti menawarkan diri untuk dapat hidup bersamanya. Tak lagi ia mengingat gadis itu. Gadis yang dilupakannya.
Hingga akhirnya, takdir itu membawanya menemukan pengganti cintanya. Hatinya berlabuh pada seorang gadis rupawan yang rendah hati dan berkepribadian menawan. Hidupnya sempurna.
Gadis itu adalah dia. Dia yang pernah ia lupakan. Ia yang juga dipaksa untuk hilang ingatan. Gadis itu datang kembali. Hanya saja... Di waktu yang lebih tepat.
Huk Family Resto
Mulai dari saat marah...
Sampai saat hujan hingga banjir datang...
Atau hanya untuk bincang-bincang haha hihi menghabiskan malam...
Ini tempat favoritku...
:D
Rumah Huk Family Resto di daerah cempaka putih, deket kosan.
Tujuan wajib kala pengen nongkrong selepas pulang kantor.
Pertama kali tau tentang tempat ini dari temen kosan.
Awal nyoba sih ragu. Tempatnya keliatan mewah. Haha... secara ya... aku kan agak ngga nyaman kalau tempatnya terlalu wah...
Hehe...
Tapi ternyata lumayan juga. Betah...
Such a great place.
Harganya juga terjangkau lah buat anak kosan.
Kalau jumat malam sama sabtu malam (kalau ngga salah) ada live musicnya juga.
Untuk peta lokasi, foto tempat, dan menu lebih lengkap mungkin bisa diintip langsung disini:
zomato dan foursquare
Belum nemu tempat unyu yang lain...
Sementara ini dulu lah.
Aku juga kebetulan ngga gampang bosan :D
Atau hanya untuk bincang-bincang haha hihi menghabiskan malam...
:D
Rumah Huk Family Resto di daerah cempaka putih, deket kosan.
Tujuan wajib kala pengen nongkrong selepas pulang kantor.
Pertama kali tau tentang tempat ini dari temen kosan.
Awal nyoba sih ragu. Tempatnya keliatan mewah. Haha... secara ya... aku kan agak ngga nyaman kalau tempatnya terlalu wah...
Hehe...
Tapi ternyata lumayan juga. Betah...
Such a great place.
Harganya juga terjangkau lah buat anak kosan.
Kalau jumat malam sama sabtu malam (kalau ngga salah) ada live musicnya juga.
Untuk peta lokasi, foto tempat, dan menu lebih lengkap mungkin bisa diintip langsung disini:
zomato dan foursquare
Belum nemu tempat unyu yang lain...
Sementara ini dulu lah.
Aku juga kebetulan ngga gampang bosan :D
Kamis, 07 Mei 2015
MADE Series: "M"
Loser, loner
A coward who pretends to be tough
I’ve gotten scared of people’s eyes
I’m sick of crying so I tried smiling
Loser
I'm a Loser...
We’re so comfortable together, I’m gaining so much weight
My body wraps around yours so perfectly
You’re forever 25 to me
Won’t ever change
Sebagaimana yang sudah tenar di dunia maya, Bigbang akan merilis lagu baru setiap awal bulan, mulai dari Mei hingga September. Bae Bae dan Loser adalah dua lagu pembuka yang diluncurkan tanggal 1 Mei lalu.
Bae Bae itu cute dan kontroversial. Tapi, Loser lebih mencabik-cabik #hallah. Tipe laguku banget.
Some random quotes that I like most:
- Tidak seperti orang lain yang mengatakan "we'll tried harder, please give us more of your love" saat comeback, GD lebih suka bilang "you like or not, we'll come." :p
- "Taeyang will always hold that soft and gentle place in my heart because of his faith."
Ahh... dan tentang deskripsi/makna dari music video mereka. Ini deskripsi favoritku untuk Bae Bae. Secara ya ini music video kontroversial sangat. So many people said that's all about sex. Tapi deskripsi yang satu ini... suka :D
Bae Bae:
- GD is dressed in those silly clothes with a backpack which represents that he is still "a child" and he just noticed the opposite sex. He sees the girl as an angel because it's his first crush.
- Taeyang represents the youthfull love, the beginning of a relationship, hence the cherry blossoms which actually represent how life is passable due to their short time of "living" (only 2 weeks) so could be showing young love but they wont be young like that forever. The horse is a symbol for a journey, probably life journey.
- TOP with the flowers; that's where love is more mature in life, when you're ready to settle down. The giant orchid actually is a symbol of pubescence (means you're mature enough for intercourse), purple roses represent enchantment and love at first sight, sunflowers represent loyalty and nourishment, and there is also some red roses which represent ofcourse love and passion. A few white roses are also there and white roses are traditional wedding flowers. So to sum it up his part represents marriage and starting a family (the baby at the end of his part).
- Daesung represents the time when you already settled down long ago, he is on an island and islands represent save havens, so he is "safe" with the person (the girl), they are safely connected to each other. Also, there is a palm on the island and palm trees represent peace, so they're in a peacefull time of their life journey. Sand spilling represents the time passing by.
- Seungri, at first he lights a match, fire represents fear and destruction, it could be a symbol for the end of the journey and fear of death. He and the girl also have white hair which means that they have finished their life journey together. And the purple rose withering is ofcourse death.
- After that they're all flying over the moon, and the moon is a symbol for rhythm of time and also the symbol of the soul, which means when your time is done your soul leaves for heaven (or whatever you believe in). While rice represents fertility, it also represents a connection between the Earth (man) and heaven (God, or something else you believe in), so at the end it's them enjoying their afterlife.
sumber: seseorang di yutup (lupa namanya -_- ini cuma copas dari chatku sama seseorang)
Mari kita nantikan lagu selanjutnya bulan depan :)
Selasa, 28 April 2015
RISE
Tiba-tiba pengen nulis tentang ini setelah kemarin dapat kabar gembira dari partner in crime ku raya_za. (ini kalimat pertama males ngetik. Langsung aja copas dari sini)
Tanggal 1 Agustus!!! Hanya berjarak kurang dari 6 bulan dari yang sebelumnya!!
Aaakkk... Ini bukan sesuatu yang bisa kulewatkan!!!
Ah yasudahlah, kita lihat saja nanti, kelas mana yang bisa kebeli :P
Kembali ke cerita...
Tentang romantisme tanggal 14 Februari 2015. Helleh...
Ngga akan cerita tentang kronologisnya sih. Cuma remah-remahnya aja lah. Untuk lebih detailnya udah kesimpen disini #tunjukhati.
Berencana untuk berangkat kurang lebih jam 4. Tidur siang dulu sebelum mulai siap-siap. Itupun tak nyenyak. Deg-degan. Berasa mau ketemu siapa. Sampai perut sakit :D
Dengan persiapan maksimal dan timing yang tepat (aku dan raya_za sedang berhalangan sholat), pergilah kami menuju Tennis Indoor Senayan. Pakai salah jalan pula ini supir taksi. Kami udah ngomel-ngomel aja karena gedungnya sepiiii, ngga ada banner, terus ngumpat-ngumpat promotor. Yo pantes. Lha wong salah gedung.
Berdiri bermenit-menit demi menunggu open gate pun tak masalah.
Dan kemudian tiba-tiba udah keluar gedung dengan suara serak. Hahahahaha...
(Waktu tak terasa telah berlalu)
*Ngga papa lah ya alay dikit. Mumpung masih muda. Lumayan buat kenangan masa belia.*
*udah gitu aja*
Senin, 20 April 2015
`MADE` TOUR TRAILER
Baru rilis tanggal 16 April lalu.
Telat nonton. Biasanya kalau ada rilis baru gini udah mantengin yutup jam 10 malem (jam 12 malam waktu korea). Hahaha...
**********
(kasih 10 bintang)
Kamis, 16 April 2015
Happy Birthday to Me
Jaman di Rumah
Di rumah, ulang tahun dirayakan dengan sederhana. Dulu suka pengen sih syukuran nasi kuning yang diantar ke tetangga-tetangga seperti yang dilakukan tetangga sebelah (yang disini). Tapi, tak papa, ritual kami sudah cukup menyenangkan.
Pasti bapak yang pertama kali mengucapkan selamat, menjabat tanganku erat sambil mengucapkan harapan-harapannya untukku. Kemudian bapak akan menyuruh adik-adikku memberikan selamat padaku. Lalu, ibu akan menyusul.
Kemudian bapak akan bertanya, mau dibeliin apa. Dan jawabannya tiap tahun pasti "Tepo tahu". Hehe, langsung deh, bapak akan menyuruh adikku untuk membeli 6 bungkus lontong dengan sambal kecap dan telur ceplok itu untuk kami (bapak, ibu, dua adikku, dan mbah kakung) makan bersama.
Bahagiaku hanya sesederhana itu :)
Jaman Kuliah
Ada dua momen spesial yang kuingat tentang hari ulang tahunku di jaman ini.
Yang pertama adalah ulang tahunku ketika tahun pertama kuliah. Kalau tidak salah, saat itu bukan pas hari H.
Tiba-tiba ada yang ngasih cup cake gitu 3 biji, Satu untukku, dan dua lagi untuk dua orang temanku yang ulang tahun dekat-dekat tanggal itu. Jadi ceritanya itu perayaan ulang tahun untuk kami bertiga.
Dan yang kedua... Hahaha... (ingetnya pengen ngikik). Saat ultah di tahun ketiga kuliah.
Yang aku ingat adalah kadonya. Jadi, dua orang sahabatku, Raya_za dan Deasy, memberiku hadiah berupa kumpulan testimoni dari orang-orang terdekatku (teman-teman kos, teman kuliah, sahabat dekat).
Tapiiiii...
Yang paling edan adalah, di antara kumpulan testimoni itu ada satu testimoni dari gebetanku. Hahaha... Ya ampuuun. Sebut saja namanya E. Mereka berdua itu bukan temennya si E. Kenal juga ngga. Cuma sekedar tau lah dari aku. Tapi, mereka iseng-isengnya dateng ke kos dia, entah gimana caranya, terus dapet testimoninya.
Aku langsung melongo.
Terus senyum-senyum sendiri baca testimoninya yang sweet.
Jaman Kerja
Tahun lalu raya_za memberiku kado Cooler Pad. Hihihi... dia peka banget. Pasti liat laptopku di kamar yang kudu selalu pakai kipas angin biar tetep adem.
Tahun ini, raya_za memberiku ini

Aaaakkkkk... #kecupkecup
#langsungrajinminum
Dan sebuah kejutan kecil di usiaku yang ke 24 tahun.
Dari my bitter-sweet partner (karena ketika sama dia sometimes I fell sweet, but sometimes I feel bitter). Hahahaha... #Pisss
Walaupun ngga ngaku, tapi aku tau lah ini pasti kerjaan dia. Siapa lagi yang banyak duit demi beliin kue ini :D
Keesokan harinya masih ada surprise pagi hari dari teman-teman Subbag Monita (Ibu Kasubbag sih kayaknya yang ngasih, mengatasnamakan Monita).
Happy Birthday to Me...
Stay cool and patient ya Sistaaa :p
Di rumah, ulang tahun dirayakan dengan sederhana. Dulu suka pengen sih syukuran nasi kuning yang diantar ke tetangga-tetangga seperti yang dilakukan tetangga sebelah (yang disini). Tapi, tak papa, ritual kami sudah cukup menyenangkan.
Pasti bapak yang pertama kali mengucapkan selamat, menjabat tanganku erat sambil mengucapkan harapan-harapannya untukku. Kemudian bapak akan menyuruh adik-adikku memberikan selamat padaku. Lalu, ibu akan menyusul.
Kemudian bapak akan bertanya, mau dibeliin apa. Dan jawabannya tiap tahun pasti "Tepo tahu". Hehe, langsung deh, bapak akan menyuruh adikku untuk membeli 6 bungkus lontong dengan sambal kecap dan telur ceplok itu untuk kami (bapak, ibu, dua adikku, dan mbah kakung) makan bersama.
Bahagiaku hanya sesederhana itu :)
Jaman Kuliah
Ada dua momen spesial yang kuingat tentang hari ulang tahunku di jaman ini.
Yang pertama adalah ulang tahunku ketika tahun pertama kuliah. Kalau tidak salah, saat itu bukan pas hari H.
Tiba-tiba ada yang ngasih cup cake gitu 3 biji, Satu untukku, dan dua lagi untuk dua orang temanku yang ulang tahun dekat-dekat tanggal itu. Jadi ceritanya itu perayaan ulang tahun untuk kami bertiga.
Dan yang kedua... Hahaha... (ingetnya pengen ngikik). Saat ultah di tahun ketiga kuliah.
Yang aku ingat adalah kadonya. Jadi, dua orang sahabatku, Raya_za dan Deasy, memberiku hadiah berupa kumpulan testimoni dari orang-orang terdekatku (teman-teman kos, teman kuliah, sahabat dekat).
Tapiiiii...
Yang paling edan adalah, di antara kumpulan testimoni itu ada satu testimoni dari gebetanku. Hahaha... Ya ampuuun. Sebut saja namanya E. Mereka berdua itu bukan temennya si E. Kenal juga ngga. Cuma sekedar tau lah dari aku. Tapi, mereka iseng-isengnya dateng ke kos dia, entah gimana caranya, terus dapet testimoninya.
Aku langsung melongo.
Terus senyum-senyum sendiri baca testimoninya yang sweet.
Jaman Kerja
Tahun lalu raya_za memberiku kado Cooler Pad. Hihihi... dia peka banget. Pasti liat laptopku di kamar yang kudu selalu pakai kipas angin biar tetep adem.
Tahun ini, raya_za memberiku ini

Aaaakkkkk... #kecupkecup
#langsungrajinminum
Dan sebuah kejutan kecil di usiaku yang ke 24 tahun.
Dari my bitter-sweet partner (karena ketika sama dia sometimes I fell sweet, but sometimes I feel bitter). Hahahaha... #Pisss
Walaupun ngga ngaku, tapi aku tau lah ini pasti kerjaan dia. Siapa lagi yang banyak duit demi beliin kue ini :D
Keesokan harinya masih ada surprise pagi hari dari teman-teman Subbag Monita (Ibu Kasubbag sih kayaknya yang ngasih, mengatasnamakan Monita).
![]() |
| Isinya Mukena |
Happy Birthday to Me...
Stay cool and patient ya Sistaaa :p
Senin, 13 April 2015
You Are The One - Raef
Won't you be my BFF (best friend forever) and ever?
Won't you be my partner after this world?
I never thought that I would ever feel this way
I ask Allah to bless you every single day
I prayed about this just over a million times
Who would ever thought that I could call you mine?
And when there's gray in our hair and we've not much to do
I want to spend the rest of my days with you…
Jumat, 10 April 2015
Perdebatan itu tak terasa seperti perdebatan sepasang kekasih.
Tak seperti perdebatan calon istri dengan calon suami.
Perdebatan itu terasa seperti dua orang tak saling kenal yang beradu argumen di media sosial.
Seperti pembela dua kubu berbeda yang bentrok pendapat di saat pilkada.
Seperti pendukung lain fraksi yang berperang ide di rapat DPR.
Perdebatan itu terasa seperti dua orang tak saling kenal yang beradu argumen di media sosial.
Seperti pembela dua kubu berbeda yang bentrok pendapat di saat pilkada.
Seperti pendukung lain fraksi yang berperang ide di rapat DPR.
Tak ada rasa cinta.
Tak terdengar kalimat-kalimat berbeda pendapat tapi bernada gemas.
Dingin, datar.
Tak terdengar kalimat-kalimat berbeda pendapat tapi bernada gemas.
Dingin, datar.
"Tak lagi punya idealis..."
"Bohong..."
"Kata kata tak pantas..."
"Bohong..."
"Kata kata tak pantas..."
Terbayang bagaimana rasanya jika kata itu terucap di depan muka.
Dengan wajah dingin dan kecewa....
Selesailah semua.
Dengan wajah dingin dan kecewa....
Selesailah semua.
Dengan begini saja, sudah membuat dia enggan.
Habis sudah harga diri.
Hilang sudah semangat mencari.
"Bila aku telah tiada maafkanlah.
Pertengkaran semalam, memelankan langkah kakiku.
Terlalu banyak kebimbangan yang tak seharusnya ku risaukan."
Pertengkaran semalam, memelankan langkah kakiku.
Terlalu banyak kebimbangan yang tak seharusnya ku risaukan."
Note:
Terinspirasi dari lagu Marvells - Bila Aku. Karena tiba-tiba tadi seharian dengerin lagu ini. Nostalgia jaman beberapa tahun yang lalu.
Dengan penambahan dan pengurangan disana sini. Menceritakan tentang seseorang yang sangat aku kasihi.
Langganan:
Postingan (Atom)





















